Thursday, May 26, 2011

PERDAMAIAN dari WEDA

VEDANTA DAN PERANAN UMAT MANUSIA DI ALAM SEMESTA Untuk Mewujudkan Perdamaian

By Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami

Berikut adalah Rangkuman Ceramah yang disampaikan oleh Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami (DR. TD Singh) di depan berbagai tokoh lintas agama, anggota Parlemen Agama-agama dunia, pada salah satu pertemuannya di Cape Town, Afrika Selatan

Saudara-saudari dan para peserta Parlemen Agama-Agama Dunia!

Tidak lama lagi kita akan memasuki sebuah era baru, dengan harapan baru akan sebuah dunia yang penuh makna, dimana segala (lapisan) umat manusia dapat hidup dengan damai. Modal besar untuk mencapai harapan ini berada dalam benak setiap orang yang tulus menginginkannya. Salah satu hal yang harus dipelajari adalah cara untuk saling menghormati satu sama lain, dengan setulus hati, meskipun kita berbeda dalam hal; budaya, tradisi, bahasa, warna kulit dan lain-lain atau dengan kata lain menyadari bahwa kita semua adalah “Anak-anak” dari “Tuhan Yang Sama.” Parlemen agama-agama dunia merupakan sebuah wadah yang sempurna untuk menciptakan dialog-dialog penting diantara semua komunitas religius yang ada di muka bumi ini, dan kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para pelopor organisasi ini.

Agama merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sejak awal peradaban. Memang nyatanya agama dan budayalah yang membuat manusia berbeda dengan bentuk-bentuk kehidupan lainnya (seperti kehidupan hewan, tumbuhan dan lain sebagainya-ed). Dalam berbagai waktu atau zaman yang berbeda, sepanjang sejarah peradaban manusia, terjadi banyak kesalahpahaman yang serius diantara berbagai kelompok-kelompok religius baik dalam satu agama, maupun antar-agama, yang berdampak timbulnya perang dan perpecahan, yang akhirnya berujung pada merosot dan hilangnya makna dan tujuan religius yang sebenarnya. Kita hanya dapat menyarankan bahwa sebab utama semua ini adalah kurangnya pendidikan spiritual & budaya dan juga kurang atau tidak adanya prinsip-prinsip pengetahuan dan aplikasi atau penerapan suatu agama yang sejati!

Kita, para peserta parlemen agama atau biasa dikatakan sebagai para peziarah perdamaian (Pilgrame of Peace) telah datang kemari untuk belajar dari satu sama lain untuk mendapatkan kebijaksanaan dan pengetahuan dari berbagai tradisi (yang ada di dunia) untuk sebuah pengalaman yang memuaskan (fullfilling experience). Saya sangat senang bahwa para panitia parlemen agama-agama dunia mengundang saya sebagai salah seorang pembicara di dalam pertemuan ini. Saya akan menyajikan sebuah tema “Vedanta and Peranan Umat Manusia di Jagat Raya”

Beberapa hadirin mungkin sudah familiar dengan kata Vedanta. Namun untuk keuntungan hadirin yang lain, yang belum mengenal kata ini, saya akan menjelaskan artinya secara ringkas. Vedanta merupakan sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berasal dari dua kata “Veda” dan “Anta” Veda berarti “Pengetahuan,” anta berarti “akhir atau puncak.” Jadi Vedanta berarti puncak segala pengetahuan. Mungkin akan ada pertanyaan “Apakah puncak atau akhir segala pengetahuan itu?” Bhagavata Purana dalam tradisi Veda menjawab pertanyaan ini:

Vasudeva para veda/ vasudeva para makha

Vasudeva para yoga/ vasudeva para kriya

Vasudeva param jnanam/ vasudeva para tapah

Vasudeva paro dharmo/ vasudeva para gatih

Artinya :

Obyek pengetahuan tertinggi adalah Vasudeva, Krishna, Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan melaksanakan korban suci adalah untuk memuaskan-Nya. Yoga adalah untuk menginsyafi Diri-Nya. Segala hasil karma (pahala) sebenarnya hanya dianugerahkan oleh-Nya. Dia adalah pengetahuan tertinggi dan segala pertapaan keras seharusnya dilakukan hanya untuk mengenal Diri-Nya. Agama (Dharma) adalah pelayanan suci kepada-Nya. Dia adalah tujuan tertinggi hidup kita.”

Didalam Bhagavad gita, Nyanyian Tuhan, Bhagavan Sri Krishna, bersabda:

Vedais cat sarvair aham eva vedyo

Vedanta krd veda vid eva caham

(Bhagavad Gita 15,15)

“Tujuan mempelajari segala kitab Veda adalah untuk mengetahui Aku. Bahkan, Aku-lah penyusun Vedanta dan Aku-lah yang mengetahui Veda.”

Tujuan empat Veda, semua Upanisad, Vedanta–Sutra, Purana dan segala literatur Veda adalah untuk mengerti tentang Tuhan, Sri Krsihna.

Vedanta-Sutra (1:1:4) menegaskan: tat su samanvayet, yang berarti “Seseorang dapat mencapai kesempurnaan dengan mengerti kitab suci Veda”

Srila Vyasadeva adalah penyusun Vedanta dan semua kitab-kitab suci Veda. Beliau merupakan inkarnasi Tuhan sebagai penyusun Veda (Literary Inkarnasi of Krishna). Ilmu pengetahuan dan filosofi Vedanta bersifat universal dan merupakan mahkota kitab suci dan tradisi spiritual Hindu. Vedanta menjelaskan tentang realitas yang utama “Ultimate Reality”

Vedanta merupakan pengetahuan yang lengkap tentang Tuhan, dalam agama Hindu. Vedanta–Sutra ditulis dalam ungkapan-ungkapan sangat ringkas (yang disebut Sutra). Sutra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ayat/sloka yang sangat pendek. Setiap Sutra mengandung pengetahuan ilmiah dan spiritual yang mendalam dan setiap kata di dalam setiap Sutra memerlukan penjelasan yang benar-benar mendalam. Sutra pertama dalam Vedanta-Sutra menjelaskan atau berkenaan dengan peranan umat manusia di alam semesta atau dunia ini.

Sutra pertama ini mengandung makna yang paling mendalam akan pengetahuan dan filosofi kehidupan manusia. Sutra pertama itu berbunyi:

“Athato Brahma Jijnasa”

“Oleh karena itu, sekarang orang harus bertanya tentang Brahman, kebenaran Mutlak yaitu Tuhan”

Kata-kata “Oleh karena itu, sekarang” memiliki makna yang mendalam.Banyak sarjana terkenal menjelaskan bahwa dua kata ini menerangkan bahwa sekarang engkau telah mendapatkan wujud kehidupan manusia ini dan oleh karena itu bertanyalah tentang Brahman, Kebenaran Mutlak (Tuhan-ed). Orang bijaksana, setelah mengalami segala jenis yang namanya saja kebahagiaan dan kemewahan material, akan segera atau akhirnya melihat bahwa dunia materiil ini merupakan sebuah tempat penderitaan yang tak akan pernah berakhir, bukannya tempat kebahagiaan atau pemenuhan segala keinginan. Bahkan orang yang paling kaya dan dokter yang paling ahli pun, tidak bisa terhindar dari penyakit, usia tua dan kematian. Dewasa ini, setelah mencapai kemajuan pesat dalam sains dan teknologi, kita semakin merasakan alam dimensi baru, alam bahaya yang lebih besar didalam wujud terorisme, perang nuklir, perang kuman atau Virus (germ warfare) dan dipertaruhkannya kelanggengan peradaban manusia.

Vedanta Menjawab tantangan ini

Vedanta menjelaskan penyebab segala bahaya ini adalah kurangnya pengetahuan akan kehidupan dan pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, Sang Kebenaran Mutlak. Jadi, dalam wujud kehidupan sebagai manusia, seorang bijaksana seharusnya mampu menginsyafi bahwa tidak ada hal yang lebih penting daripada mengerti atau mengetahui realitas tertinggi itu, yaitu Brahman/Tuhan.

Berdasarkan Vedanta, kita mendapatkan badan manusia setelah melewati 8 (delapan) juta badan atau bentuk kehidupan dibawah manusia (seperti amuba, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya) Kehidupan dalam badan manusia merupakan bentuk kehidupan paling mulia, berharga dan tidak ada jaminan setiap orang apakah dia mendapatkan kesempatan memperoleh kehidupan sebagai manusia lagi atau tidak, pada kelahiran berikutnya. Badan manusia merupakan satu-satunya kesempatan dengan mana kita dapat keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian di dunia materiil ini dengan cara memotong sepenuhnya rantai karma. Hal ini dapat dicapai dengan jalan spiritual Bhakti-Yoga yaitu sravanam (mendengar), kirtanam (memuji), Smaranam (mengingat) keagungan Tuhan dan lain sebagainya. Seseorang yang serius tidak akan melewatkan kesempatan emas ini (kesempatan keluar dari lingkaran penderitaan kelahiran dan kematian).

Karena alasan ini makna filosofi Vedanta tidak mengijinkan atau menganjurkan segala tindakan yang tidak alamiah seperti euthanasia, pembunuhan atau bunuh diri yang dianjurkan bahkan bagi orang-orang yang memiliki penyakit kronis (terminal disease) atau memperpanjang hidup secara tiruan. Jadi, Vedanta juga mengajarkan banyak tentang etika biomedis. Oleh karena itu, kata-kata “Oleh karena itu, Sekarang juga” (dalam Sutra athato brahma jijnasa diatas-ed), mengandung makna yang dalam mengenai betapa pentingnya bentuk kehidupan manusia dan manusia memiliki peranan yang penting di Jagat Raya ini (untuk menciptakan kedamaian-ed).

+ Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami, merupakan salah satu anggota pendiri URI (United Religion Initiative), Organisasi terbesar di dunia dalam bidang menggalakana Dialog Lintas agama dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dan menghindari kekerasan yang mengatasnamakan agama. (lihat juga ceramah beliau tentang pentingnya dialog antar agama.

Monday, May 23, 2011

SESANTI HIDUP

KESADARAN ADALAH MATAHARI............
KESABARAN ADALAH BUMI............................
DAN PERJUANGAN ADALAH PELAKSANAAN KATA KATA............

VEDANTA SUTRA

VEDANTA Saat ini, khususnya di Indonesia, umat Hindu dengan fasihnya mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tri Murti, yang merupakan tiga perwujudan Tuhan sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pelebur dalam bentuk Brahma, Visnu dan Siva. Bahkan banyak anggapan mengatakan bahwa dewa-dewa yang berjumlah 33 juta adalah sama dengan Tuhan. Mereka beranggapan bahwa semua dewa ini adalah sama dan sejajar, Tuhan yang sama dan dengan menyembah salah satunya akan mengantarkan atman pada pencapain Moksa, penyatuan Atman dengan Brahman.

Analogi umum yang dinyatakan oleh mereka yang meyakini filsafat ini adalah analogi nama. Dimana orang yang sama dikatakan sebagai orang tua oleh anaknya, dikatakan sebagai anak oleh orang tuanya, dikatakan sebagai guru oleh murid-muridnya dan dikatakan sebagai petani jika dia bekerja bertani. Sekilas sepertinya sangat meyakinkan. Tetapi apa analogi ini sesuai dan tepat untuk kondisi sebenarnya yang didasarkan atas sastra Veda?

Jika kita membaca Veda Sruti, maka disana dapat kita temukan banyak mantram-mantram pujian terhadap para dewa, bahkan ada mantram yang seolah-olah menyebutkan bahwa Tuhan hanyalah satu, yang disebut Indra, Agni, Brahma, Visnu, Rudra. Banyak orang beranggapan bahwa dengan mempelajari dan mengerti Catur Veda/Veda Sruti berarti dia sudah menguasai Veda dengan lengkap. Dan sering kali juga beranggapan bahwa Veda Smrti (Purana, Upanisad, dll) hanyalah di peruntukkan bagi kaum yang kurang mengerti sastra Veda Sruti. Padahal apakah benar seperti itu? Bukankah Veda Smrti merupakan penjabaran detail dari Veda Sruti dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan? Tanpa panduan Veda Smrti, seseorang tidak akan mampu menyanyikan mantram Veda (Chandha/Siksha), Mengartikan mantram-mantram Veda dengan bantuan Nirukti dan Vyakarana Sastra. Sehingga dapat dipastikan orang yang mempelajari Catur Veda tanpa berbekal pengetahuan Veda Smrti pasti akan bingung sendiri.

Konsep Tri Murti yang saat ini dikenal umum mungkin berasal dari konsep Tri Guna Avatara sebagaimana tercantum dalam Bhagavata Purana 1.2.23 menyebutkan, “Sattvam rajah tamah eti …. sthity-adaya hari virinci samjnah, Sri Hari yang spiritual tidak langsung berhubungan dengan sifat-sifat alam material sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan). Untuk keperluan proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam material, Beliau mengambil perwujudan ketiga sifat alam tersebut sebagai Brahma, Visnu dan Siva”. Brahma adalah pengendali sifat alam rajas (kenafsuan). Visnu adalah pengendali sifat alam sattvam (kebaikan). Dan Siva adalah pengendali sifat alam tamas (kegelapan).

Tetapi Brahma dan Siva hanya bisa berbuat sesuai fungsinya masing-masing atas perkenan Visnu. Fakta ini diakui oleh Brahma sesuai dengan Bhagavata Purana 2.6.32; “Srjami tan niyukto’ ham haro hareti tad vasah visvam purusa rupena paripati tri sakti drk”, atas kehendak-Nya, saya mencipta dan Hara (Siva) melebur. Sedangkan Beliau (Visnu) sendiri adalah pengendali mahaperkasa atas segala tenaga mencipta, memelihara dan melebur alam material”.

Mengapa Brahma menyatakan demikian? Sebab Brahma tergolong jiva-tattva, makhluk hidup (jiva) yang diberikan kekuatan (sakti) khusus oleh Sri Visnu untuk melaksanakan tugas mencipta. Sedangkan Hara (yang juga disebut Siva atau Rudra) adalah perbanyakan khusus Sri Visnu untuk melaksanakan tugas peleburan,dan tergolong siva-tattva.

Dengan demikian, proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam material pada hakekatnya dilakukan oleh Sri Visnu sendiri yang juga disebut Sri Hari atau Narayana. Fakta ini dinyatakan oleh Beliau sendiri dalam Bhagavad Gita yang merupakan kesimpulan seluruh pustaka suci Veda. “Mayadhyaksena prakrtih, alam matrial ini bekerja dibawah pengendalian-Ku (Bg.9.10). Aham krtsnasya jagatah prabhavah pralayas tatha, ketahuilah dengan pasti bahwa Saya lah yang menjadi sebab terciptanya alam material ini dan juga menjadi sebab peleburannya (Bg.7.6)”.

Brahma adalah makhluk hidup pertama di alam semesta material. Dia lahir dari bunga padma yang tumbuh dari pusar Garbhodakasayi Visnu. Oleh karena semua makhluk hidup di alam material berasal dari dirinya, maka Brahma disebut Moyang (prajapati) pertama atau Leluhur awal segala makhluk.

Oleh karena lahir sendiri tanpa ayah atau ibu, maka Brahma disebut Svayambhu atau Atmabhu. Oleh karena memiliki empat kepala, maka Brahma disebut sang Catur Mukha.

Selanjutnya, oleh karena melaksanakan tugasnya mencipta seluruh alam material, planet-planet dan beraneka macam badan jasmani bagi para makhluk hidup dengan memakai unsur-unsur materi yang telah disediakan oleh Sri Visnu, maka Brahma disebut sang Arsitek alam semesta material.

Menurut Brahma Samhita 5.27, Brahma mampu melaksanakan tugasnya mencipta setelah Melaksanakan pertapaan keras selama 1.000 tahun pada dewa dan menerima pengetahuan Veda dari Sri Visnu melalui suara seruling Beliau yang masuk ke telinganya.

Brahma Samhita 5.49 menyatakan bahwa dalam kedudukannya sebagai pencipta alam material, Brahma mengibaratkan dirinya seperti permata surya-kanta yang bercahaya kemilau karena diterpa oleh sinar matahari. Hal ini berarti bahwa Brahma mampu menciptakan alam mayterial beserta segala fasilitas kehidupannya atas karunia Sri Visnu yang juga di Sri Narayana.

Oleh karena mencipta alam material dengan memanfaatkan unsur-unsur materi yang telah disediakan oleh Tuhan Sri Visnu, maka penciptaan oleh Brahma disebut visarga atau vaikrta. Sedangkan penciptaan unsur-unsur materi oleh Sri Visnu disebut sarga atau prakrta.

Karena itu, Brahma dikatakan sebagai secondary creator (pencipta ke-dua), sedangkan Sri Visnu disebut primary creator (pencipta awal).

Menurut Brahma Samhita 5.53, Brahma menyatakan dirinya tergolong jiva-tattva, makhluk hidup (jiva) yang selamanya berada dibawah pengendalian Sri Narayana. “Brahmadi kita pagava dhayas ca jivah”, mulai dari diri saya (Brahma) yang berkedudukan paling tinggi menurun sampai si serangga kecil dan hina, semuanya adalah para jiva.

Sebagai makhluk hidup (jiva), Brahma tidak hidup kekal. Dia hanya hidup selama 100 tahun menurut ukuran waktu di tempat tinggalnya Satya loka. Setelah mencapai usia 100 tahun, Brahma akan wafat. Dan kematiannya berarti total pralaya (kiamat) seluruh alam semesta material.

Oleh karena Brahma melaksanakan tugasnya mencipta sebagai pelayanan bhakti kepada Sri Hari (Narayana) dan oleh karena dia senantiasa khusuk dalam kegiatan spiritual demikian, setelah wafat Brahma dipastikan kembali pulang ke dunia rohani Vaikuntha-loka / Moksha.

Sementara tugasnya mencipta selesai, Brahma berkedudukan sebagai Residential Manager alam semesta material.

Secara umum Brahma dianggap sebagai Dewa tertinggi di alam semesta material, sebab semua Rishi, Dewa dan segala jenis makhluk lain berasal (tercipta) dari dirinya. Begitu pula, segala pengetahuan yang ada di alam material berasal darinya. Sebab Brahma adalah perwujudan pengetahuan Veda (Vedas personified). Dan nama Brahma itu sendiri berarti pengetahuan Veda.

Apabila Indra dan para Dewa pengendali urusan material dunia fana tidak mampu mengatasi gangguan para Asura yang merusak tatanan kehidupan di seluruh alam semesta material, mereka akan melapor kepada Brahma, mohon bantuan. Dan Brahma akan memohon kepada Tuhan, Sri Narayana agar ber-avatara ke dunia fana untuk membasmi para Asura itu.

Karma-mayam berarti dapat dicapai dengan melakukan amat banyak karma bajik. Dikatakan bahwa post atau jabatan Brahma adalah karma-mayam, dapat dicapai dengan melakukan sangat banyak kegiatan (karma) bajik. Dalam Bhagavata Purana 4.24.29 disebutkan; “Sva-dharma nistah sata janmabhih puman virincatam eti”, jika seseorang melakukan tugas kewajibannya (dalam varna-asrama) secara amat sempurna selama 100 kali penjelmaan, maka dia berkualifikasi menduduki jabatan Brahma.

Selanjutnya dikatakan, “Tatra brahma tu vijneha purvokta vidhaya hareh”, jika tidak ada makhluk hidup (jiva) yang memenuhi syarat untuk menjabat sebagai Brahma, maka Sri Hari sendiri bertindak sebagai Brahma”.

Tetapi jabatan Brahma tetap dipegang oleh satu makhluk hidup (jiva) sejak saat penciptaan sampai saat peleburan (pralaya) alam material. Atau, jabatan Brahma tidak bisa dialihkan kepada makhluk hidup (jiva) lain.

Visnu berarti “all pervading”, berada dimana-mana. Dikatakan demikian, sebab Visnu berada di lubuk hati setiap makhluk hidup dan juga di didalam setiap inti atom. Beliau juga secara pribadi tinggal di alam material di suatu tempat bernama Sveta-dvipa.

Visnu adalah salah satu nama Tuhan dalam hubungannya dengan fungsi memelihara alam material dan melindungi segala makhluk penghuninya. Nama lain Beliau adalah Hari, Narayana, Hrsikesa, Kesava, Madhava, Vasudeva, Janardana, Govinda, Krishna dan sebagainya. (lihat Visnusahasranama / 1000 nama suci Tuhan)

Visnu-avatara berarti Visnu yang turun ke alam material untuk melaksanakan misi tertentu dalam hubungannya dengan pemeliharaan alam material. Karena itu ada banyak jenis Visnu-avatara, antara lain Purusa-avatara, Guna-avatara, Yuga-avatara, Purna-avatara, Lila-avatara, Manvantara-avatara, dan sebagainya.

Menurut Bhagavad Gita 4.8 tujuan Visnu-avatara adalah:

1. Paritranaya sadhunam (melindungi orang-orang saleh)

2. Vinasaya ca duskrtam (menghancurkan orang-orang jahat)

3. Dharmasamsthapanarthaya (menegakkan prinsip-prinsip dharma di alam material).

Dari sekian banyak Visnu-avatara, Yuga-avatara Sri Rama dan Purna-avatara. Sri Krishna adalah yang paling dikenal di masyarakat manusia. Sebab lila (kegiatan rohani) kedua Avatara ini terjadi di Bumi.

Lila Sri Rama tercantum dalam kitab Ramayana, sedangkan lila Sri Krishna tercantum dalam kitab Mahabharata. Kedua kitab Itihasa ini secara khusus disusun oleh Rishi Valmiki dan Rishi Vyasa untuk memudahkan penduduk Kali-Yuga mengingat Tuhan dan dengan demikian mensucikan hati agar bisa segera pulang kembali ke dunia rohani Vaikuntha-loka / Moksha.

Dalam kitab Ramayana tercantum prinsip-prinsip kepemimpinan yang disebut asta-vrata dan contoh kepemimpinan praktis nan luhur yang diperlihatkan langsung oleh kehidupan Sri Rama. Semua ini dimaksudkan sebagai tauladan yang harus dicontoh oleh setiap pemimpin di masyarakat manusia.

Dalam kitab Mahabharata tercantum kesimpulan seluruh puskata Veda yaitu Bhagavad Gita. Kitab Bhagavad Gita ini dimaksudkan agar orang-orang Kali Yuga mudah mempelajari, mengerti dan mem-praktekkan Veda dalam kehidupan sehari-hari.

Lila Visnu-avatara juga tercantum dalam berbagai kitab Purana yang tergolong Itihasa.

Dewa Siva lahir dari kening Brahma ketika beliau sedang marah kepada ke empat putranya yaitu para Rishi Catur Kumara. Begitu lahir dalam wujud bayi berwarna merah kebiruan, ia menangis dengan suara amat keras sehingga Brahma memberinya nama Rudra.

Kelahirannya dari kemarahan Brahma menunjukkan bahwa Siva adalah personifikasi sifat alam tamas (kegelapan). Sebab, marah berarti gelap, dan gelap berarti kehancuran.

Siva memiliki sebelas nama yaitu; Manyu, Manu, Mahan, Rudra, Mahinasa, Rtadhvaja, Ugrareta, Bhava, Vamadeva, Dhrta vrata dan Kala. Semua perbanyakan Siva ini dikenal sebagai Ekadasa Rudra, sebelas Rudra.

Ke sebelas perwujudan Siva ini masing-masing memiliki istri (sakti) dan dikenal sebagai para Rudrani. Mereka adalah: Dhi, Dhrti, Rasala, Uma, Niyut, Sarpi, Ila, Ambika, Iravati, Svadha dan Diksa.

Siva bertempat tinggal di Kailasa, yang terletak di perbatasan dunia rohani dan juga di salah satu puncak pegunungan Himalaya di bumi ini. Dibagian lain pustaka Veda dikatakan beliau juga punya tempat tinggal di Vitala-loka dan di Ilavrta-varsa.

Sedangkan tempat tinggal ke sebelas perbanyakannya adalah sebagai berikut.

NO.

TEMPAT TINGGAL

BUKTI KEHADIRAN SIVA YANG MENGHANCURKAN

1.

2.

3.

4.

-

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

HATI

INDRIYA

NAFAS

LANGIT

-

UDARA

API

AIR

BUMI

MATAHARI

BULAN

KEKUATAN

TAPA

BILA SESEORANG MARAH, HATI (JANTUNG) NYA BERDETAKKERAS, MATANYA MERAH, INDRIYA-INDRIYA JADI TEGANGDAN NAFASNYA JADI BERAT DAN CEPAT.

-

LANGIT DITUTUPI AWAN TEBAL DAN GUNTUR MENGGLEGAR

MENJELANG TERJADI HUJAN BADAI YANG MENGAMUK.

ANGIN TOPAN YANG MERUSAK SEGALA SESUATU DI BHUMI.

KEBAKARAN YANG MENGHANGUSKAN.

BANJIR DAN GELOMBANG PASANG (TSUNAMI).

GEMPA YANG MERUSAK.

SINAR MATAHARI YANG MENYENGAT.

SUHU AMAT DINGIN.

KUTUKAN YANG TIMBUL DARI KEMARAHAN SANG BRAHMANA

Sesuai perintah sang Ayah (Brahma), Siva ikut aktip menurunkan anak cucu untuk mengisi dunia dengan penduduk beranekaragam. Tapi semua keturunannya berperangai galak, bengis dan menakutkan.

Bhagavata Purana mengatakan bahwa ketika mereka berkumpul hendak menghancurkan dunia, Brahma berkata kepada Siva, “Tidak ada gunanya engkau menurunkan makhluk-makhluk kejam dan pemarah seperti mereka. Lihatlah, mereka membuat kerusakan disana-sini dengan pancaran panas yang keluar dari matanya. Bahkan beberapa dari mereka telah menyerang diriku

Brahma lanjut berkata, “Karena itu, O anakku, berilah mereka contoh prilaku yang baik. Tekunkan dirimu dalam pertapaan. Sebab, hanya dengan pertapaan kehidupan dan kesejahteraan segala makhluk dapat dipelihara”

Diperintah demikian, Siva lalu pergi ke hutan dan melaksanakan pertapaan. Beliau ber-meditasi kepada salah satu dari empat perbanyakan utama (Catur-Vyuha) Sri Narayana yaitu Sankarsana yang di alam fana berwujud sebagai Naga Ananta, tempat tidur Grbhodakasayi Visnu. Dikatakan oleh Veda bahwa Sankarsana adalah sumber keberadaan Siva.

Siva berdoa kepada Sankarsana sbb, “Om namo bhagavate maha purusaya sarva guna sankhany anantasya vyaktaya nama iti …”, O Tuhanku, saya sujud kepada-Mu dalam perwujudan-Mu sebagai Sankarsana. Anda adalah sumber segala kekuatan rohani. Meskipun anda memiliki sifat-sifat tak terbatas, Anda tetap tidak dikenal oleh mereka yang bukan penyembah-Mu” (Bhagavata purana 5.17.17).

Lebih lanjut Siva berkata, “ … ete vayam yasya vase mahatmanah sthitah sakuntah iva sutra yantitrah”, Brahma dan diriku adalah bagaikan burung-burung terikat tak berdaya … Hanya dengan karunia-Mu lah kami mampu mencipta dan melebur alam material ini” (Bhagavata Purana.5.17.23).

Dikatakan bahwa ular-ular cobra yang menghias diri Siva adalah perwujudan Naga Ananta. Dan gambar atau lukisan Siva sedang bermeditasi adalah ungkapan pernyataan Veda.

CARA CARA ILMIAH PENGENDALIAN DIRI

Cara-cara Ilmiah Pengendalian Diri

A morning discussion WithSrila Bhaktisvarupa Damodara Swami

at Radha Rasesvara Mandir, Bali. Sekitar Bulan Juli 2005

Sripad Maharaj Menyanyikan Lagu Ohe Vaisnava Thakur karya Srila Bhaktivinoda Thakur dan membaca terjemahannya dan memberikan ulasan tentang makna lagu itu.\

Penjelasan Oleh Srila Sripada

Para penyembah harus mampu mengendalikan enam jenis nafsu ‘passion’. Diantara semua indera yang paling penting adalah pikiran, sang raja indera, yang juga sering disebut dengan indera ke-enam. Segala sesuatu yang datang ke dalam diri kita, pertama-tama ia akan melewati atau masuk ke dalam pikiran (kemudian pikiran akan memerintahkan indera kita untuk melakukan sesuatu-ed). Jika pikiran dapat diatur dengan baik, maka indera yang lain akan menjadi baik pula (atau dengan kata lain berbagai dorongan atau nafsu lebih mudah dikendalikan).

(1) ohe! Vaisnava thakura, doyara sagara,

e dase karuna kori’

diya pada-chaya, sodho he amaya,

tomara carana dhori

(2) chaya bega domi’, chaya dosa sodhi’

chaya guna deho’ dase

chaya sat-sanga, deho’ he amare

boshechi sangera ase

(3) ekaki amara, nahi paya bala,

hari-nama-sankirtane

tumi krpa kori’, sraddha-bindu diya,

deho’ krsna-nama-dhane

(4) krsna se tomara, krsna dite para,

tomara sakati ache

ami to’ kangala, ‘krsna’ ‘krsna’ boli’,

dhai tava pache pache

Sripad Maharaj membaca terjemahan :

(1)

Oh Vaishnava Thakura, Oh Lautan Karunia,

tolong memberi karunia kepada hambamu ini,

sucikan diriku,dengan perlindungan kaki-padmamu.

Aku memegang kaki-padmamu dengan rendah-hati.

(2)

Kendalikanlah enam dorongan ini

sucikanlah diriku dari enam kesalahan.

Berilah hambamu ini enam sifat baik.

Berilah hamba enam jenis pergaulan suci.

Aku duduk disini mengharapan pergaulanmu.

(3)

Sendirian hambamu ini tidak mempunyai kekuatan,

untuk mengucapkan Nama Suci Sri Hari, Nama Suci Tuhan.

maka itu, tolonglah bermurah hati, dengan sebutir keyakinan,

berikan aku harta-karun-besar berupa Nama suci Krishna.

(4)

Wahai Vaisnava thakura, Krishna adalah milikmu.

Engkau mampu memberikan Krishna kepada-ku.

Begitulah kekuatanmu. Dan aku memang hina !

hanya mengejarmu, seraya berseru, “Krishna! Krishna!”

Penjelasan Oleh Srila Sripada

Para penyembah harus mampu mengendalikan enam jenis nafsu ‘passion’. Diantara semua indera yang paling penting adalah pikiran, sang raja indera, yang juga sering disebut dengan indera ke-enam. Segala sesuatu yang datang ke dalam diri kita, pertama-tama ia akan melewati atau masuk ke dalam pikiran (kemudian pikiran akan memerintahkan indera kita untuk melakukan sesuatu-ed). Jika pikiran dapat diatur dengan baik, maka indera yang lain akan menjadi baik pula (atau dengan kata lain berbagai dorongan atau nafsu lebih mudah dikendalikan).

Bagaimanakah cara melatih pikiran?

------Chaya Bega Domi ------

-Kendalikan Enam Dorongan—

1. Dorongan untuk bicara

2. Dorongan dari pikiran

3. Dorongan Amarah

4. Dorongan dari Lidah

5. Dorongan dari Perut

6. Dorongan dari kemaluan

Bhaja hure mana sri nanda nandandana abhaya caranaravinda…pikiran harus selalu diarahkan untuk melayani Krishna, jika tidak demikian maka (setiap ada celah) dia akan selalu mengarahkan kita ke hal-hal yang tidak-tidak (kearah hal-hal yang negatif). Pikiran akan memberitahumu berbagai macam hal seperti:

“Ayo pergi ke bioskop!, ayo pergi jalan-jalan ke kota, Ayo kita nonton, Ayo kita ke night club!, Ayo mabuk-mabukkan! Ayo merokok atau ngisap ganja! dan lain sebagainya. Banyak sekali permintaan pikiran. Inilah gejala-gejala peradaban modern (peradaban kali-yuga). Banyak hal yang menjauhkan diri kita dari Pribadi Tuhan Yang Maha Esa, Krishna dan membuat kita berpaling dari Tuhan.

Seperti halnya di dunia ini, ada suatu game atau suatu perlombaan, dimana para pemenangnya minum minuman yang bernama sampaign, yang mana minum sampaign ini mereka anggap sebagai simbol kebahagiaan, tetapi mereka tidak menyadari ada bahaya dibaliknya, yaitu alkohol itu bisa merusak pikiran.

Lain halnya dengan para penyembah, para bhakta Tuhan mereka lebih suka minum minuman yang bersifat alami yang sangat membantu membuat pikiran fresh, seperti: lassi (semacam minuman india atau vedic), jus buah, air kelapa dan lain lain.

Yang kedua adalah kata-kata (pertama pikiran).

Bagaimana cara mengendalikan kata-kata ?

Chaya dosa Sodhi

--Sucikan diri dari enam kesalahan—

1. Makan atau mengumpulkan uang terlalu banyak

2. Berusaha keras hanya untuk tujuan duniawi

3. Berbicara hal-hal yang tidak perlu tentang urusan duniawi

4. Alpa pada aturan-aturan kitab suci

5. Terlalu terikat bergaul dengan orang duniawi

6. Sangat bernafsu mengejar hal-hal duniawi

Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak diperlukan. seperti yang pernah dianjurkan oleh Canakya pandit “Bahkan ketika kita bicara tentang kebenaran pun, jangan sampai menyinggung atau menyakiti hati atau perasaan orang lain, maka itu ketika para pengajar Kesadaran Krishna harus memiliki seni dalam menggunakan kata-kata yang halus dan tepat dalam menyampaikan tentang Kesadaran Krishna dan tidak membuat orang-orang baru menjadi bingung, melainkan mereka harus mampu membuat orang-orang yang baru dalam Kesadaran Krishna ini merasa semakin tertarik dengan Kesadaran Krishna.

Dalam mengeluarkan kata-kata, jangan sampai membuat orang tersinggung.

(Memelihara) Badan

Sebaiknya kita menjaga badan kita agar selalu fit dan fresh – segar & bugar-- agar selalu bisa dipakai dalam pelayanan kepada Krishna. Untuk menjaga kesehatan, seorang bhakta harus menjaga atau mengendalikan lidah, perut dan kemaluannya. Tiga garis lurus ini (lidah, perut dan kemaluan harus dijaga karena saling mempengaruhi satu sama lain.)

Lidah sangat memegang peranan penting (dalam pengendalian diri). Jika lidah dapat diatur dengan baik, maka perut dan kemaluan dapat diatur atau dikendalikan dengan baik pula (ketiga hal ini berada dalam satu garis lurus).

Bhaktivinoda Thakur telah mengajarkan :

Sarira avidya-jal, jodendriya tahe kal

Jive phele visaya sagore

Ta’ra madhye jihva ati, Lobhamoy sudhurmait,

Ta’ke jeta kathina samsare

Krsna bara doyamoy, koribare jihva jay,

Sva-prasad-anna dilo bhai

Sei annamrta pao, radha-krsna-guna gao,

Preme dako caitanya-nitai

Artinya:

“Wahai saudara-saudara! Badan materiil ini adalah jala atau jejaring kebodohan, dan indera-indera merupakan musuh yang dapat membunuh kita, karena indera melemparkan sang roh ke dalam lautan kenikmatan indera duniawi. Diantara semua indera, lidahlah yang paling rakus dan sulit dikendalikan. Sangat sulit menaklukkan lidah di dunia ini “

Wahai saudara-saudara! Sri Krishna sangat penuh karunia dan Dia telah memberikan kita sisa makanan-Nya Sendiri, hanya agar kita dapat mengendalikan lidah kita. Sekarang, terimalah Krsihna-prasada ini, yang bagaikan nektar (minuman kekekalan) itu dan nyanyikanlah tentang kebesaran Sri Sri Radha-Krishna dan Teriakkanlah Nama Suci “Chaitanya! Nitai!” dalam cinta-bhakti

Ini adalah doa untuk mengendalikan lidah.

Jadi Kesadaran Krishna adalah pengetahuan yang sangat ilmiah. Segala petunjuk sastra ini sangat ilmiah. Ilmiah berarti sangat sistematis, dapat dipraktekkan atau dilakukan dengan teratur.

Karena itu kita memiliki empat prinsip dasar, yang merupakan sistem pertapaan, pertapaan minimum yang harus kita lakukan di zaman kali ini.

Apa saja Empat Prinsip Dasar Itu?

1. Tidak mabuk-mabukan

Dengan menerapkan prinsip ini maka kita tidak mencemari badan kita dengan hal–hal yang tidak perlu. Ini adalah cara hidup sehat dan hiegenis. Minumlah minuman yang alamiah seperti air kelapa, yang membuat pikiran kita menjadi sehat. Kita sebaiknya tidak minum minuman yang kurang sehat seperti coca-cola, pepsi-kola, dan lain sebagainya.

2. Vegetarian

Prinsip yang kedua adalah Vegetarian. Menjadi vegetarian tidak menyakiti makhluk hidup lainnya (mengembangkan rasa kasih sayang). Ketika kita mengajarkan kepada orang-orang tentang vegetarian maka banyak orang yang berargumen “Bukankah semua makhluk hidup dimaksudkan untuk dijadikan makanan?” kita bervegetarian berarti atau dimakdsudkan untuk membawa kedamaian di dunia. Orang-orang sangat kejam sekali menyiksa makhluk-hidup lain (untuk dijadikan makanan) kita sebaiknya tidak menyakiti makhluk hidup mana pun, oleh karena itu kita harus menjadi vegetarian, pure vegetarian (tidak makan segala jenis daging, ikan, telor, bawang, kopi, the dan jamur).

Sebenarnya banyak orang telah mengetahui bervegetarian ini sangat menguntungkan, seperti di Assisi, Italia pada tahun 2001, diadakan suatu ‘hari doa’, dimana dihadiri sekitar 14.000 orang, semuanya hidup dengan bervegetarian (pada hari itu), yaitu hanya dengan minum jus. Mereka melakukan ini karena ini merupakan sesuatu yang praktis, dengan landasan jika semua orang bisa bervegetarian maka akan ada suasana yang baik dan cuaca yang baik, hal ini harus dikumandangkan ke seluruh dunia.

Mungkin ada pertanyaan, mengapa tidak makan jamur, bawang putih, bawang merah. Maka kamu harus menjawab, “Di alam material ini ada tiga jenis mood of nature, tiga sifat alam. Seperti halnya cendawan atau jamur itu bersifat tamasik tamasik artinya dengan memasiukakn makanan yang tamasik yang tersusus atas zat-zat kimia yang bersifat tamasik maka akan menghasilkan berbagai kegiatan yang bersifat tamasik pula, seperti halnya males-malesan. Dan kita juga harus menghindari pergaulan orang-orang yang bersifat tamasik. Karena pergaulan berarti mempengaruhi kita. Semakin keras pengaruh tamasik maka pikiran kita juga akan semakin beku, bisa-bisa kita tidur 23 (dua puluh tiga) jam sehari, karena pengaruh sifat ini.

3. Tidak main judi

Apakah dasar ilmiah tidak main judi? Ada berbagai jawaban. Judi merupakan bukti bahwa kamu sedang dipengaruhi oleh tamasic-thinking, cara berpikir yang bersifat tamas, suatu gaya berpikir males-malesan. Dengan kata lain orang yang suka berjudi adalah orang yang suka males-malesan, tidak mau bekerja atau berusaha.

4 Tidak berzinah

Pemuda pemudi hidup bersama. apa sulitnya untuk tidak melakukan hal ini, zinah? ada yang bisa jawab? Mengapa kita harus melakukan prinsip tidak berzinah ?

(Srila Sripada Mengajak para penyembah berdiskusi)

Chaya guna deho’dase

Berikan hambamu ini enam sifat baik

1. Semangat

2. Sabar

3. Yakin

4. Tabah Hati

5. Meninggalkan pergaulan jelek

6. Mengikuti jejak para Acharya

Pr. Haladhara: Karena zinah dapat merusak kesucian dan juga merupakan gaya hidup binatang!

Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak diperlukan. seperti yang pernah dianjurkan oleh Canakya pandit “Bahkan ketika kita bicara tentang kebenaran pun, jangan sampai menyinggung atau menyakiti hati atau perasaan orang lain, maka itu ketika para pengajar Kesadaran Krishna harus memiliki seni dalam menggunakan kata-kata yang halus dan tepat dalam menyampaikan tentang Kesadaran Krishna dan tidak membuat orang-orang baru menjadi bingung, melainkan mereka harus mampu membuat orang-orang yang baru dalam Kesadaran Krishna ini merasa semakin tertarik dengan Kesadaran Krishna.

Sripad Maharaj: Semisal kita masuk suatu kampus, bagaimanakah cara kita menyampaikan pemikiran ini agar bisa diterima oleh para mahasiswa?

Pr Haladhara: Saya akan menjelaskan kepada para mahasiswa “Anda mengatakan diri anda orang yang berperadaban maju, maka itu adalah tidak pantas meniru gaya hidup binatang. Saya akan meyakinkan mereka dengan mengatakan hal ini. Saya rasa ini jawaban yang cukup logis.

Sripad Maharaj: Haladhara sangat bijaksana, tetapi mahasiswa ini akan menjadi marah mendengarnya. (tertawa).

Sripad Maharaj: Kita dapat menjelaskan menjadi bahagia merupakan sesuatu yang fundamental, mendasar, bagi setiap orang. Belakangan ini ada riset ilmiah “Syarat minimim untuk mendapatkan kebahagian“…Berikan mereka penjelasan bahwa kepuasan atau kebahagiaan itu ada dua jenis yaitu kepuasan yang bersifat sementara dan kepuasan yang bersifat kekal. Untuk menjelaskan hal ini tidak cukup dengan sekali pelajaran. Lalu jelaskan apakah kebahagian sementara itu, dan apa itu kebahagian yang bersifat kekal. Perlu waktu dan terus menerus untuk melakukannya….

Jadi sangat penting untuk mengendalikan enam jenis nafsu atau dorongan ini (dengan 4 prinsip), seperti yang dijelaskan dalam lagu bhaktivinoda ini. Dan sebaliknya sangat penting pula untuk mengembangkan enam jenis sifat baik ini yaitu: semangat, sabar, keyakinan, ketabahan hati, meninggalkan pergaulan jelek, dan disiplin mengikuti jejak para acharya. Salah satu yang penting adalah memelihara semangat Kita kadang semangat dan kadang tidak. Kuncinya adalah di dunia ini pasti ada sukha-dukha, sadarilah ini agar tetap dapat memelihatra semangat.

Resep “Tetap Semangat”

Mungkin kita bisa mendiskukan sebenrtar tentang formula “Tetap Semangat”

Bagaimana kita mengelola pengaruh pengaruh negatif yang dapat membuat kita menjadi lemah semangat?

P. Guna Avatar: Setiap hari melakukan pelayanan, baca Bhagavad-Gita, pergaulan makan persad dan laian-lain. Sadhu sanga dan bergaul dengan penyembah.

Sripada Maharaj: Ada yang Lain ?

P. Ananta Wijaya: ini adalah masalah karunia guru, kalo kita tekun memuja guru, maka kita akan selalu dalam perlindungan guru.

Sripad Maharaj: Adalah yang lain, Semangat itu penting Lho!

Pr Sudhira Krishna das : Mencari ide-ide baru

Sripad Maharaj: Maksudmu mengembangkan Kreativitas?

Pr Sudhir : Ya.

Pr Agus: Bekerja keras tanpa memikirkan hasil

Unknown1: melakukan sesuatu sebagai kebutuhaan dan tidak melakukan sesuatu sebagai kewajiban

Sripada Maharaj: Very Comlicated Answer! Mungkin kamu bisa bikin tesis atau disertasi dengan ide ini dan dapatkan gelar doktor! (tertawa)

Unknown2: Mengikuti acarya pedahulu, berjapa lebih banyak mengunjungi tempat-tempat suci

Sripada Maharaj: semua jawaban kalian benar. cuman saya mau menambahkan sesuatu sedikit yaitu sebuah rumus:

“To genuinely develop culture of humility”

“Mengembangkan rasa rendah hati yang sejati, tanpa kepura-puraan”

Ini adalah ajaran Gaurangga Mahaprabhu dalam Siksaastakam dan dalam siksastakam instisarinya adalah sloka:

Trnad api suicena

taror iva sahiuna

Amanina manadena

Kirtaniyah sada hari

“Orang hendaknya mengucapkan Nama Suci tuhan dengan sikap rendah hati, dengan berpikir dirinya lebih rendah daripada rumput di jalan. Hendaknya ia lebih toleransi daripada sebatang pohon, bebas dari segala rasa bangga palsu dan bersedia memberi segala hormat kepada orang lain. Dengan sikap seperti inilah, ia dapat senantiasa mengucapkan Nama Suci Tuhan.”

Ini merupakan kunci untuk lebih maju dalam mengucapkan nama suci Tuhan. Jadi kita perlu sifat-sifat ini, yaitu:

1. trnad api sunicena: memikirkan dirinya lebih rendah daripada sebilah rumput di jalan.

2. taror iva sahisnuna: lebih toleran daripada sebatang pohon.

3. amanina: tidak mengharapkan penghormatan pribadi.

4. manadena: selalu siap memberikan segala penghormatan kepada orang lain.

5. Amanina manadena artinnya kita harus selalu ingin menghormati orang lain dengan cara mengembangkan kerendahan hati yang sebenarnya, kerendahan hati yang sungguh-sungguh (tanpa rasa kepura-puraan).

Menurut Bhagavad.Gita ada 3 (tiga) jenis musuh yaitu kamah krodhas tatha lobh. kama artinya nafsu, krodha artinya marah dan lobha artinya kelobaan atau kerakusan. Jika pikiran tidak terkendali maka secara otomatis pikiran akan terfokus pada objek-objek indera. Jika pikiran sudah terfokus pada objek indera dan tidak memperoleh apa yang diinginkannya maka kita akan menjadi krodha atau marah.

Kemarahan dan lobha---jika dua sifat negatif ini bekerja sama tidak terkendali maka dapat terjadi atau menimbulkan tindakan-tindakan kriminal seperti perampokan, dan lain sebagainnya.

Chaya Sat-sangga

---Berikan hambamu ini enam jenis pergaulan suci---

1. Memberikan sumbangan

2. Menerima sumabangan atau bingkisan

3. Mengutarakan isi hati

4. Bertanya tentang bhakti

5. Memberikan persadam, karunia

6. Menerima persadam

Jika kama dan pikiran terarah dengan baik maka indera yang lain dengan mudah dapat dikendalikan. Semua hal baik akan pergi jika kamu hanya marah-marah saja.Oleh karena itu kita harus berdoa, agar selalu terbebas dari sifat-sifat jahat ini, karena di dalam komunitas Kesadaran Krsna, dalam ISKCON tidak tempat untuk marah-marah.

Kemudian lobha berarti menginginkan sesuatu di luar kemampuan kita. Maka itu untuk mengatasi semua ini kita harus selalu berdoa, memohon berkat sri guruparampara, para acharya pendahulu kita.

Seperti anjuran dalam sastra:

Yasya deve para bhaktir

Yatha dehe tatha gurau

Tasyaite katha hy arthah

Prakasante mahatmanah

“Hanyakepada mereka yang memiliki keyakinan yang teguh kepada guru kerohanian, maka segala pengetahuan suci veda akan terungkap secara otomatis dalam hati roh agung seperti itu.”

Hanya dengan berkat mereka, berkat para acharya terdahulu (para otoritas) kita dapat maju lebih lanjut dalam kesadaran Krishna ini. Ini merupakan suatu proses yang sederhana.

Maka Kesadaran Krishna Sesunguhnya sangat Simple-sederhana bagi orang yang simple-minded, orang yang berpikiran sederhana dan akan menjadi ruwet (complex) bagi orang yang berpikiran ruwet (complex-minded).

Jadi berdoalah agar selalu atau dapat mengembangkan kesederhanaan hati dengan mengucapkan nama suci Tuhan:

Harer nam harer nam harer namaiva kevala

Kalau nasty eva nasty eva nasty eva gathir anyatha

“Untuk Mencapai Keinsyafan diri di zaman kali ini, tidak ada cara lain ,tak ada cara lain, tak ada cara lain, selain pengucapan Nama-Suci, Nama-Suci, Nama-Suci Sri Hari , Tuhan Yang Maha Esa

Maka dengan mempraktekkan semua rumus diatas, kita akan mampu Kirtaniyah sada harih---Selalulah mengucapkan nama suci (tanpa kesalahan):

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Jadi dengan cara demikian, kembangkanlah sifat-sifat baik, dan juga hindarilah pembicaraan yang tidak perlu, dengan cara mengembangkan pergaulan yang baik, sadhu-sanga. Seperti yang tercantum dalam ajaran lagu karya Bhaktivinoda diatas, Chaya sat-sanga, selalulah mencari pergaulan yang baik. Ada berbagai cara untuk melaksanakan pergaulan baik ini (sadhu sanga), Seperti sekarang yang kita lakukan ini, disamping itu kita juga dapat mengundang para penyembah datang ke rumah kita untuk mendiskusikan ajaran-ajaran bhakti, menerima dan memberi prasdam, dan lain sebagainya.

Kesimpulan.

Dengan mengikuti semua aturan sastra ini, semua peraturan yang bersifat sistematis dan ilmiah ini, maka secara berangsur-angsur kamu/kita akan menjadi penyembah murni Tuhan.