Sunday, October 9, 2011
OPINI | 21 December 2009 | 12:06 727 27 1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat
--------------------------------------------------------------------------------
Hidup di masyarakat yang heterogen sangatlah menyenangkan. Memiliki banyak sahabat dari berbagai suku, ras, agama dan golongan memberikan nilai tersendiri pada masing-masing pribadi. Namun harus disadari bahwa tabiat masing-masing pribadi sangatlah berbeda-beda. Sikap dan kejiwaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi dimana seseorang dilahirkan, dibesarkan dan dasar keyakinan yang ditanamkan pada dirinya.
Membicarakan masalah keyakinan kadangkala menjadi suatu yang imajiner, yang sangat irasional dan hanya karena masalah keyakinan seseorang dapat melakukan apa saja diluar akal sehat manusia. Kasus-kasus bom bunuh diri dan perang atas nama Tuhan sudah mengorbankan jutaan nyawa dalam sejarah kehidupan manusia.
Sebagai golongan minoritas sering kali saya disuguhi pertanyaan yang sangat menggelitik tetapi juga menarik untuk di bahas. Salah satunya adalah masalah “siapa Tuhanmu?”. Seorang teman kuliah pernah berkata kepada saya; “Kalau Tuhanku kan Allah, Tuhan orang kristen Yesus, Alah Bapa dan Roh Kudus, sementara Tuhan kamu siapa? Terus Dewa favorit kamu yang mana yan?”
Ternyata Tuhan yang selama ini saya pahami sebagai Yang Esa dan Tuhan semua mahluk hidup di alam semesta ini tidak sama dengan Tuhan yang dibayangkan oleh teman saya itu. Apa benar Tuhan kita berbeda-beda?
Menurut Karen Amstrong dalam bukunya “A History of God” menyatakan bahwa asal-usul masing-masing Tuhan dalam agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) berbeda-beda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad.
Karakter masing-masing Tuhan agama Abrahamik tersebut sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan yang paling pencemburu, gampang marah, dan suka menghukum pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Apakah pernyataan Karen Amstrong mengenai Tuhan penganut agama Abrahamik adalah berbeda sebagaimana disebutkan dalam bukunya tersebut? Mari kita coba analisis dari masalah wahyu yang diturunkan kepada ketiga agama ini. Agama Yahudi adalah agama yang paling tua dari ke-3 rumpun agama ini, kitab suci-nya adalah Taurat / Torah. Namun demikian sebagaimana pernyataan Yesus dalam di Matius 5:17. Dikatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya“. Ayat ini menegaskan bahwa Ajaran Kristen diwahyukan kembali untuk melengkapi ajaran yang sebelumnya yang kurang sempurna. Demikian juga Islam lewat Q.S. Al Maidah ayat 3 mengatakan “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. Ayat ini mengklaim bahwa agama Islam adalah ajaran yang menyempurnakan ajaran-ajaran agama-agama sebelumnya (Yahudi dan Kristen).
Jika memang Tuhan ke-3 agama ini berbeda, sepertinya masalah ini dapat dimengerti karena satu Tuhan mengoreksi Tuhan yang lainnya. Namun jika kita kembali lagi ke titik pangkal Agama dimana setiap umat agama memuja Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Adil dan berbagai sebutan Tuhan dengan kemahakuasaannya, apakah mungkin posisi “maha/paling” disini dikuasai oleh lebih dari satu entitas (Tuhan)? Tentunya harus ada satu yang laing berkuasa, yang paling sempurna, yang paling adil dan sebagainya.
Namun jika kita mengatakan bahwa Tuhan dalam ajaran Abrahamik ini sejatinya hanya ada satu, maka permasalahannya adalah pada model pewahyuan/penurunan ajaran-ajarannya. Kenapa Tuhan menurunkan ajarannya dalam kondisi tidak sempurna sehingga harus diperbaiki, ditambahkan dan disempurnakan sebagaimana kasus Taurat/Torah yang digenapi dengan kehadiran Yesus dan berikutnya disempurnakan lagi dengan kehadiran Nabi Muhammad? Bukankah Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna? Kenapa Beliau Yang Maha Sempurna dapat menurunkan kitab suci yang tidak sempurna?
Mungkin permasalahan inilah yang menyebabkan kenapa beberapa teman saya menanyakan pada saya prihal siapa Tuhan saya. Kalau memang benar demikian adanya, saya sebagai pengikut Veda yang berada di luar komunitas agama-agama Abrahamik tentunya dapat memahami pola pikir mereka.
Tapi sebelum kita menyimpulakan bahwa Tuhan itu memang banyak dan mengatakan bahwa masing-masing agama punya Tuhan yang berbeda, mari kita coba untuk menggunakan akal sehat kita terlebih dahulu untuk bertanya pada Tuhan, siapa nama Tuhan yang sebenarnya.
Sekarang kita coba tatap langit dan lihatlah benda yang berpijar dan memberikan penerangan terhadap bumi, yang menyebabkan adanya siang dan malam. Apa nama benda langit tersebut?
Kita sebagai orang Indonesia akan menyebutnya “Matahari”. Bangsa yang menggunakan bahasa Inggris akan menyebutnya “Sun”. Orang Bali menyebutnya sebagai Surya / Matanai. Orang Tengger menyebutnya “Srengenge” dan orang Sunda menyebutnya “Baskara”, kalangan ilmiah kadang menyebutkannya dengan istilah “Solar”. Apakah salah kalau kita menyebutkaan benda langit yang menyebabkan siang dan malam itu sebagai Sun, Surya, Matahari dan sebagainya? Tidak kan?
Demikian juga halnya dengan Sang Pencipta, Penguasa Alam Raya ini yang terkadang disebut “God atau Lord” oleh bangsa yang bertutur kata dengan bahasa inggris, disebut “Gusti” oleh orang Jawa, disebut Tuhan dalam bahasa Indonesia, Allah dalam bahasa Arab, Hyang Widdhi dalam bahasa Sansekerta, dan sebagainya. Salahkan orang yang menyebut Sang Pencipta dengan nama yang sesuai dengan bahasa yang digunakan di daerahnya?
Jika kita mau jujur, sebenarnya cara kita menyebut Sang Maha Pencipta adalah dengan menggunakan sifat-sifat dari beliau. Dalam Islam dikenal istilah Asmaaa-ul-husnaa, yaitu 100 nama suci Tuhan (1 nama belum diketahui) berdasarkan sifat-sifatnya. Menurut Akif Manaf Jabir, Ph.D (1997), Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa ada 99 nama Tuhan yang apabila seseorang melafalkan kesemua nama itu, maka ia akan masuk surga. Itulah sebabnya, biji tasbih yang digunakan oleh umat Islam untuk berzikir jumlahnya 99, mengikuti jumlah nama Allah itu.
Nama yang pertama adalah “Allah” yang berarti “that which there is no other” atau “hanya satu tiada duanya”. Nama inilah yang paling menonjol di antara nama-nama lainnya, sehingga lahirlah “Lailahaillalah”, atau “tiada Tuhan selain Allah.” Allah memiliki nama lain Al-Alim yaitu “Beliau Yang Maha Tahu”,Al-Kudus “Beliau Yang Maha Suci“, Al-Rahman “Maha Pengasih”, Al-Rahim “Maha penyayang”, Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Sabr “Yang Paling Sabar” dan lain-lain.
Tentunya ke 99 nama Tuhan diatas dalam bahasa Arab, nah bagaimana halnya jika kita menyebutkan nama Tuhan dalam bahasa Veda, bahasa Sansekerta? Dalam Veda dikenal istilah “Visnusahasranama” yaitu 1000 nama suci Tuhan yang sesui dengan sifat-sifatnya yaitu antara lain Hyang Widdhi (Vidhi) “Yang Maha Tahu”, Krishna “Yang Maha Menarik”, Acintya “Yang Tidak Terpikirkan”, maadhavo, Visnu “Beliau yang ada dalam segala sesuatu”, Narayana, Govinda, dan sebagainya.
Terus bagaimana halnya dengan penyebutan Tuhan dalam bahasa yang lain? Tentu ada banyak sebutan unik yang tidak terhingga banyaknya sesuai dengan bahasa yang digunakan kan?
Jika dengan analogi diatas menyatakan bahwa Tuhan setiap orang sebenarnya hanya satu, lalu mengapa sebagian orang Islam masih tetap ngotot pada pendirian bahwa “orang yang tidak menyebut Tuhan dengan nama ‘Allah’ berarti kafir”? Mengapa mereka beranggapan bahwa tiada kebenaran lain dalam agama selain Islam? Jawabannya, semua itu dipengaruhi oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dalam konteks situasi yang dihadapi oleh Nabi Muhammad. Pada masa itu, sebagian ayat-ayat seperti itu memang sesuai dengan keadaan jaman jahilliyah. Kalau kemudian ayat-ayat itu ditafsirkan apa adanya, tanpa memandang konteks situasi jaman yang sudah berubah, yang terjadi adalah sebuah kekonyolan semata.
HL | 19 February 2010 | 08:37 881 44 2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik
--------------------------------------------------------------------------------
Veda berarti pengetahuan. Ia adalah pengetahuan lengkap dan sempurna tentang jagat-raya dan segala makhluk penghuninya. Ia juga mencakup pengetahuan tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Karena itu, kemunculan para nabi dan rasul dimasa lalu dalam masa Kali-Yuga yang kini sedang berlangsung, telah disebutkan dalam Veda.
Mengenai kemunculan Nabi Isa atau Jesus yang juga dipanggil Isa Al Masih, Veda menyatakan sbb. “Kemudian di masyarakat kaum mleccha muncul Isa putra Kumari dan mengajarkan pengetahuan rohani kepada orang-orang Amalika. Dikatakan lebih lanjut, Pada usia 13 th. Isa pergi ke India dan kemudian ke Himalaya. Disana ia melaksanakan pertapaan dibawah bimbingan para rishi dan siddha-yogi sehingga ia secara rohani menjadi matang. Setelah itu ia kembali ke Palestina untuk mengajarkan pengetahuan rohani kepada bangsanya”. (Bhavisya-Purana, Pratisarga Parva, Khanda 3, ayat 16-33)”.
Di dalam Bible (Injil) tidak disebutkan kemana dan dimana Jesus berada ketika berusia 13 sampai 29 th. Masa 17 tahun menghilangnya ini disebut “The lost years of Jesus Christus”. Dan ternyata selama periode itu Jesus tinggal di India.
Dalam bukunya “The Unknown Life Of Jesus Christ” yang terbit tahun 1894, wartawan Rusia Nicolas Notovich menjelaskan bahwa selama masa hilang itu Jesus tinggal di India dan kemudian di Tibet. Fakta ini diketahui dari naskah-naskah kuno yang dia temukan tahun 1882 di biara Himis, 25 mil dari Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Dikatakan bahwa naskah-naskah kuno itu berasal dari India dalam bahasa Sanskerta, lalu diterjemah kan kedalam bahasa Pali dan selanjutnya ke bahasa Tibet.
Dalam bukunya “In Kashmir And Tibet”, Svami Abhedananda membenarkan temuan Notovich ketika dia mengunjungi Tibet tahun 1922. Dia datang langsung ke Leh di Tibet dan mendapat penjelasan dari para Lama yang memperlihatkan naskah-naskah kuno dalam bahasa Tibet tentang keberadaan Jesus di India dan Tibet dimasa lalu.
Dalam bukunya “Heart Of Asia”, Nicolas Roerich menjelaskan bahwa ada banyak ceritra tentang Jesus yang dia dapatkan dari berbagai masyarakat selama melakukan perjalanan dari tahun 1924 sampai dengan tahun 1928 ke Asia Tengah (Sikkim, Punyab, Kashmir, Ladakh, Karakorum, Khotan, Kashgar, Kareshahr, Urumci, Irtysh, Altai, dsb). “Semua berceritra bahwa Jesus dahulu pernah kesana, dan bahwa ia memiliki kemampuan melakukan hal-hal ajaib”, begitu Roerich menyimpulkan. Selanjutnya, dalam bukunya “Himalaya”, Nicolas Roerich mengutip isi naskah kuno Tibet berusia 1500 tahun yang menjelaskan bahwa pada usia 13 tahun Jesus secara diam-diam meninggalkan orang-tuanya dan pergi ke India bersama para pedagang guna menyempurnakan diri secara spiritual dan mempelajari hukum-hukum Buddha.
Pada tahun 1939 guru musik Elizabeth G Caspari beserta suami Charles, dibimbing oleh rohaniwan Clarence Gasque, pergi ke pegunungan Kailash di Himalaya dan terus ke Tibet. Di Ladakh Caspari dan Gasque diperlihatkan tiga gulungan naskah kuno oleh petugas perpustakaan biara dan dua bikhu. Mereka berkata kepadanya, “Buku-buku ini menerangkan bahwa Jesus anda dahulu tinggal disini”, dan terus membacakan Injil Johanes. Caspari dan Gasque tertegun mendengarnya.
Tahun1951 Hakim Agung Amerika Serikat William O Douglas pergi ke Himis. Dalam bukunya, “Beyond The High Himalaya”, dia menulis, “Penduduk setempat masih percaya bahwa Jesus pernah tinggal di tempat mereka (Himis). Ia datang ketika berusia 14 tahun, kemudian pergi kearah barat pada usia 28 tahun dan sejak itu tidak ada lagi beritanya. Mereka berkata bahwa sewaktu tinggal di Himis, Jesus dikenal dengan nama Isa”.
Tahun 1975 Robert S Ravics, Professor Anthropology at State California University pergi ke Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Pada kunjungan berikutnya, oleh seorang teman, dia diberitahu bahwa seorang Tabib setempat menyatakan bahwa di dalam biara dekat disana tersimpan naskah-naskah kuno yang menjelaskan bahwa Jesus pernah tinggal di Himis. Juga Ravics diberitahu oleh orang-orang terhormat setempat bahwa Jesus pernah tinggal di Tibet.
Seorang petualang bernama Edward F Noack dari Sacramento Californis USA bersama istrinya Helen telah mengunjungi Asia Tengah (Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan, Ladakh, Afganistan, Balukistan dan Turkestan) sebanyak 18 kali. Dan mereka sudah 4 kali ke Leh, ibu kota Ladakh. Ketika berada di Himis tahun 1970-an, seorang Lama memberitahu mereka bahwa ada naskah-naskah kuno yang menceritrakan perjalanan Jesus ke Ladakh tersimpan disatu ruangan dalam biara terdekat.
Kesaksian orang-orang tersebut diatas berdasarkan naskah-naskah kuno dan ceritra penduduk tentang kisah perjalanan Jesus di India dan Tibet, ditunjukkan oleh peta berikut.
Ketika Isa (sebutan Jesus dalam naskah-naskah kuno) berumur 13 tahun banyak orang kaya dan bangsawan berkunjung ke rumahnya karena mereka ingin Isa jadi menantunya. Lalu Isa diam-diam meninggalkan orang tuanya (karena tidak mau menikah). Dan bersama para pedagang Isa lalu pergi ke India dengan tujuan menyempurnakan diri secara rohani sesuai perintah Tuhan dan mempelajari hukum-hukum Buddha.
Ketika berusia 14 tahun, Isa tinggal di Sind, dan disana orang-orang Jaina minta agar ia tetap tinggal bersama mereka. (Tetapi Isa menolak) dan melanjutkan perjalanan ke Jaggernaut (=Jagannatha-puri) di Orissa. Disana ia disamput hangat oleh para brahmana. Mereka mengajarkan Isa tata-cara mempelajari dan mengerti Veda, mengajarkan Veda dan menyembuhkan penyakit dengan doa (=mantra) dan mengusir roh jahat yang mengganggu jasmani mereka yang kesurupan.
Isa tinggal selama 6 tahun di Jaggernaut, Rajagriha, Benares dan kota-kota suci lainnya di India. Penduduk yang tergolong sudra dan vaisya amat senang kepadanya. Oleh karena tidak mematuhi petunjuk agar tidak bergaul dengan orang sudra dan vaisya dan mengajarkan Veda kepada mereka, parabrahmana dan ksatriya lalu memusuhinya.
Disamping itu, Isa menolak banyak ayat Veda yang menjelaskan tentang Tuhan, makhluk hidup dan alam material. Dan ia sangat menentang pemujaan arca-vigraha Tuhan (yang dianggap berhala).
Oleh karena kini para brahmana telah menganggap Isa merusak ajaran Veda, lalu mereka berencana membunuhnya. Seorang sudra memberitahu Isa tentang rencana mereka, dan Isa meninggalkan Jaggernaut di malam hari. Kemudian Isa tiba di Gautamida (=Kapilavastu), tempat kelahiran Buddha. Orang-orang dengan ramah menyambut kedatangannya disana.
Di Gautamida Isa belajar bahasa Pali dan ajaran Buddha. Enam tahun kemudian Isa secara resmi diangggap guru kerohanian. Kemudian ia meninggalkan daerah Nepal dan Himalaya, terus pergi ke Rajputana, lalu ke-arah barat dan menyebarkan ajarannya kepada penduduk yang ditemuinya.
Isa sampai di Persia dan penduduk setempat dengan ramah menyambutnya. Tetapi para pemuka agama setempat men-curigainya, sebab ia mengajarkan amanat rohani yang tidak cocok dengan ajaran Zoroaster. Mereka kemudian membawa Isa keluar tembok kota dan meninggalkannya sendirian di tempat sunyi agar dimangsa binatang buas. Tetapi Isa selamat melanjutkan perjalanannya ke arah barat dan akhirnya tiba di Palestina/Israel pada usia 29 tahun.
Kitab Al Quran menyatakan bahwa Jesus tidak mati dipalang salib. Ia mengungsi dari Palestina setelah penyaliban, tidak pula naik ke langit melainkan pergi keluar negerinya sendiri karena diselamatkan Tuhan. Dikatakan, “Kami telah mengungsikan Jesus dan ibunya ke satu tempat yang tinggi (Al-Mukminum 23.50)”. Menurut hadits Nabi, Jesus hidup selama 120 tahun.
Isa termasuk anggota paguyuban Essena di Jerusalem. Pada tahun 1873 ditemukan satu naskah kuno yaitu surat yang ditulis oleh seorang anggota Essena kepada sahabatnya di Alexandria, Mesir. Naskah kuno ini diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 1907. Di dalam surat itu dinyatakan bahwa setelah disalib, Jesus tetap hidup.
Tahun 1957 Kurt Berna, Sekretaris German Institute, menerbitkan buku “Yesus Nicht am Kreuz gestorben (Jesus tidak wafat di kayu salib)” berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan seksama para pakar yang meneliti kain Kafan Turin yang dahulu dipakai membungkus tubuh Jesus setelah disalib. Lalu Panitia peneliti Kafan Turin yang dibentuk oleh Vatikan tahun 1969 mengumumkan hasil sama : Jesus tidak mati disalib.
Didalam Bible sendiri dikatakan bahwa Jesus datang (ke Bhumi) guna mencari 12 domba (=suku) Israel yang sesat dan sebagian besar hidup di negeri bagian timur dunia.
Kepada para muridnya, Jesus berkata, “Adalagi padaku domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib ku bawa dan domba-domba itu kelak mendengar suaraku, lalu menjadi sekawan dan gembalanya seorang saja (Yahya 10.16)”. Ini berarti setelah selamat dari penyaliban, Jesus pergi ke negeri Timur untuk mencari suku-suku Israel yang hilang (tersesat) dan mengajarkan mereka amanat rohani yang dibawanya. Dan ternyata memang demikianlah kejadiannya.
Pernyataan Al Quran bahwa Jesus dan ibunya Maria diungsikan oleh Tuhan ke tempat yang tinggi (AL Mukminum 23.50), berdasarkan bukti-bukti pisik yang ditemukan, jelas yang dimaksud “tempat tinggi” adalah daerah Kashmir di India. Sebab dikatakan lebih lanjut bahwa “tempat tinggi” itu aman, indah dan memiliki banyak mata air. Ini cocoksekali dengan suasana alam Kashmir yang bergunung-gunung dengan pemandangan damai nan indah dan mata air melimpah.
Bahwa Jesus tinggal di Kashmir setelah selamat dari penyaliban, diungkapkan dalam Veda (Bhavisya-Purana) yaitu kisah pertemuannya dengan Raja Shalivahana (=Shalevahin), cucu Raja Vikramaditya, di daerah Huna (dekat kota Srinagar di Kashmir sekarang) yang menjadi wilayah Kerajaannya. Percakapan mereka adalah sebagai berikut; “ko bhavanithi tvam praha sakovaca madanvita isa putram ca mam vidhi kumari garbha sambhavam aham isa masiha nama, Sang Raja bertanya, “Bolehkah saya tahu siapa anda?” Dengan riang yang ditanya menjawab, “Ketahui lah saya adalah putra Tuhan yang lahir dari rahim wanita perawan dan saya dikenal dengan nama Isa Al Masih (Bhavisya-purana, Skanda III Bab 2 sloka 26-27)”.
Lebih lanjut Jesus menjelaskan tentang dirinya, “Wahai sang Raja, saya datang dari negeri jauh dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya lahir di masyarakat Amalakit sebagai Al Masih. Karena saya lah orang-orang jahat dan ber dosa menderita, dan saya juga menderita ditangan mereka ( Bhavisya-purana, Skanda III, Bab 2, sloka 29-30)”.
Dikisahkan bahwa ketika Jesus kembali ke India (Kashmir sekarang), ia datang bersama ibunya Maria dan sejumlah pengikutnya. Penduduk setempat menyebut Jesus dengan nama Yuz Asaf, sebab ia akhli menyembuhkan orang-orang sakit (Yuz = pemimpin,akhli, Azaf = tersembuhkan). Jadi Yuz Asaf berarti pemimpin orang-orang yang telah disembuhkan.
Dalam buku “Acts Of Thomas” diceritrakan tentang perjalanan Jesus beserta Thomas di Pakistan (yang pada waktu itu bernama Taxila) dan kunjungan mereka ke istana Raja Gandapura (=Gundafor) tahun 47 Masehi.
Kira-kira 40 km selatan Srinagar terdapat dataran rendah nan luas yang disebut Yuz-marg, padang rumput Jesus. Disinilah beberapa suku Israel bermukim sekitar tahun 722 sebelum masehi. Mereka hidup sebagai gembala/peternak yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian penduduk di daerah itu.
Kira-kira 170 km barat kota Srinagar ada kota kecil bernama Mari. Di kota kecil ini terdapat makam ibunda Jesus, makam tua yang disebut “Mai Mari Da Asthan”, peristirahatan terakhir bunda Maria.
Di bagian wilayah tua pusat kota Srinagar yaitu Distrik Khanyar terdapat makam Jesus yang disebut “Rauza-bal” atau “Roza-bal”, makam sang Nabi. Disini ada prasasti yang menyatakan bahwa Yuz Asaf (Isa atau Jesus) datang ke Kashmir puluhan abad silam dan mengabdikan diri pada pencarian kebenaran. Pada batu nisannya tercetak tanda salib, rosary dan dua telapak kakinya yang jelas-jelas menunjukkan bekas-bekas luka disalib.
Makam Jesus (Roza-bal) ini di-bangun oleh muridnya yaitu Thomas sesuai perintah Jesus sebelum wafat. Dimakam ini jenasah Jesus dibaringkan dengan kedua kaki mengarah ke ke barat dan kepala mengarah ke timur sesuai dengan adat orang Yahudi.
Thomas sendiri, sang murid, sesuai perintah Jesus, menyebarkan ajaran sang Nabi di India. Thomas membangun gereja di Malabar, India selatan dan terus ke Mylapur dekat Madras. Dan disini sampai sekarang ada bukit bernama bukit Thomas.
Berkut adalah foto-foto Roza-bal, makam sang Nabi, Jesus.
Kitab Persia kuno “Negaris Tam- i Kashmir” menceritrakan bahwa Raja Shalivahana (=Shalevahin) berkata kepada Jesus bahwa jikalau Jesus perlu wanita pendamping (istri) untuk merawat dirinya, beliau siap mencarikan. Dan Jesus setuju. Dikatakan bahwa Jesus kemudian menikah dengan Maria (Maria Magdalena?) dan darinya Jesus memiliki beberapa putra.
Salah satu keturunan Jesus adalah Sahibzada Basharat Salim. Dia menyatakan dengan sangat hati-hati berdasarkan silsilah tertulis leluhurnya yang panjang bahwa Yuz Asaf (Isa atau Jesus) adalah leluhurnya. Salim berprofesi sebagai photographer.
Gelar “Kristus” yang ditambahkan dibelakang nama Jesus diperoleh setelah ia datang dari India. Kata ini berasal dari kata “Krishna” yang diucapkan oleh orang-orang Benggali menjadi “Kristo”, lalu berubah menjadi “Kristus”.
Penyair istana Raja Akbar menyebut Jesus sebagai “Aikinam i to Yuz O Kristo, anda yang di panggil dengan nama Yuz atau Kristo”.
Gereja berpegang teguh pada doktrin Paulus, “Jesus mati di salib, terus bangkit dan kemudian naik ke langit (sorga) dan duduk di sisi kanan Tuhan”. Sementara itu, penyelidikan para sarjana terhadap “Kafan Turin” menyatakan bahwa Jesus tidak mati disalib. Menanggapi beda pendapat ini, pada tanggal 30 Juni 1960 Paus John XXII mengeluarkan maklumat berjudul “Keselamatan sempurna tubuh Jesus Kristus”, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Jesus Kristus. Akibatnya, kematiannya dianggap tidak penting.
OPINI | 06 April 2010 | 12:46 429 34 2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif
--------------------------------------------------------------------------------
NB: Jika kesulitan melihat gambar-gambar dalam artikel ini, mohon mengacu ke artikel di blog saya di sini.
Menurut Encyclopedia Britanica dan Encyclopedia Islamia, orang-orang Arab tidak tahu sejarah negerinya sebelum masa Islam (pre-Islamic era). Mereka menganggap begitu saja bahwa masa sebelum Islam adalah masa kegelapan dan kebodohan. Tetapi sesungguhnya jauh sebelum Muhammad muncul sebagai Nabi dan mengajarkan agama Islam, penduduk Arabia menganut ajaran Veda. Fakta ini diketahui dari satu sisa peninggalan berupa anthologi (kumpulan sajak) Arab berjudul SAYAR-UL-OKUL yang ditemukan di perpustakaan Istambul di Turki. Kolektornya adalah Abu Amir Abdul Asmai, penyair di istana khalifah Harus AL Rasyid di Baghdad.
Kitab SAYAR-UL-OKUL menguraikan tentang kehidupan beragama dan adat-istiadat masyarakat Arab di masa silam. Dikatakan bahwa Ka’bah yang ada di Mekah sekarang, adalah dahulu grand temple (kuil agung) dimana di puja deva yang paling agung yaitu Mahadeva atau Siva. Dikatakan bahwa batu hitam (black stone, lebar 28 cm, tinggi 38 cm dan tinggi 38 cm dan ditaruh pada tumpuan 1,5 m diatas lantai) yang ada dalam Ka’bah sekarang adalah wujud (image) Siva. Dahulu ada 360 patung (arca atau murti) para deva di-stanakan disekeliling Siva (dalam wujud batu hitam). Setiap tahun, perayaan Siva-Ratri yang disebut OKAZ dimeriahkan dengan acara lomba ber-sajak memuji Mahadeva. Pemenang sajak terbaik diberikan hadiah dan sajaknya dituliskan pada dinding Ka’bah. Sajak pujian berikut ditulis oleh Umar Bin Assham yang tewas terbunuh ketika laskar Muslim memasuki Mekah dan menghancurkan Kuil agung beserta segala patung, gambar dan sajak-sajak pujian yang ada di dalamnya. Tetapi sajaknya ini berhasil diselamakan oleh Hassan Bin Sabiq, penyair Muslim dalam masa pemerintahan Nabi Muhammad.
(Orang yang telah menghabiskan masa hidupnya dengan kegiatan berdosa, amoral, nafsu dan kemarahan).
(Jika ia pada akhirnya mau bertobat untuk kembali hidup bermoral, apakah ada cara-cara benebus dosanya?).
(Bahkan seandainya dia sekali saja memuja Mahadeva, dia dapat mencapai kedudukan tertinggi dalam jalan kebenaran).
(O Tuhan, cabut saja nyawaku dan sebagai balasannya berikan hamba karunia tinggal sehari saja di Hind (India), sebab seseoang akan menjadi rohani suci begitu sampai di negeri itu).
(Dengan berziarah ke negeri Hind (India) orang memetik phahala perbuatan-perbuatan bajik dan memperoleh hak istimewa berhubungan baik dengan para guru Hindu nan mulia).
Para pandita Kuil Agung (Ka’bah) Mekah adalah orang-orang Qureshi. Muhammad sendiri adalah orang Qureshi. Akan tetapi, oleh karena beliau adalah penunggang onta yang buta huruf, maka beliau (seperti) disisihkan dari perayaan-perayaan besar dan meriah di Ka’bah. Hal ini mengecewakan Muhammad. Setelah memperoleh wahyu tentang pemujaan hanya kepada Allah (Tuhan) dan ber-status Nabi, Muhammad menyatakan diri sebagai “But shikan”, penghancur berhala.
Ketika di Mekah terjadi protes keras besar-besaran menentang penghancuran segala patung (yang dianggap berhala) yang dilakukan oleh Muhammad dan para pengikutnya, lalu Muhammad dan pengikutnya mengungsi ke Madinah. Setelah merasa cukup kuat untuk menyerang Mekah, lalu Muhammad berdoa kepada Mahadeva (Siva), “Seandainya hamba mampu menaklukkan Mekah, hamba akan hancurkan ke 360 patung deva-deva itu, tetapi tidak menghancurkan wujud (image) Mu (berupa batu hitam). Hamba akan cium Anda, sujud dihadapanmu dan puja Anda dengan daun dan buah kurma dan air zam-zam”
Setelah menaklukkan Mekah (karena menyerang di malam hari), Muhammad beserta laskarnya kemudian menghancurkan semua patung dan gambar yang ada dalam Ka’bah, terus mencium “batu hitam” (image Siva), sujud dihadapannya dan memujanya. Praktek mencium “batu hitam” yang ada dalam Ka’bah dilaksanakan oleh setiap orang Muslim sampai sekarang. “Ini sunnah Nabi”, kata mereka.
Versi ajaran Veda yang disimpangkan antara lain:
Batu hitam dimaksud adalah sebenarnya Siva-linga, dan disebut “Sange Asvad” atau “Hajar Asvad”. Kata “Asvad” berasal dari kata Sanskerta “Asita” yang berarti hitam.
Kata “Siva Ratri” berubah menjadi “Shabe-Barat”. Oleh karena kelender Muslim berdasarkan peredaran Bulan, maka perayaannya sudah jauh bergeser dari hari yang sebenarnya. Siva-ratri = malam perkawinan Siva dengan Parvati atau Uma. Orang Arab menyebut ibu dengan nama Umi.
Bulan sabit yang menghias “mukut” Siva dijadikan lambang bangsa, dan semua bendera negeri Muslim berhiaskan gambar bulan sabit.
Nama “Mekah” berasal dari kata Sanskerta “Makhaih” yang berarti yajna (kurban suci), karena dimasa lalu disana (di Kuil agung atau Ka’bah di Mekah) sering diselenggarakan yajna besar memuja para deva.
Kalimat “Allahu Akbar” pun adalah kata-kata Sanskerta, “Alla dan Akka”, dua kata panggilan untuk Tuhan.
Mencukur (gundul) rambut ketika hendak naik haji, mandi dan mengenakan dua lembar kain putih tanpa dijarit adalah serupa dengan praktek brahmacari ketika menerima upacara pemberian tali-suci oleh guru kerohanian.
Mengelilingi Ka’bah tujuh kali adalah serupa dengan praktek pradaksina atau parikrama, mengelilingi Kuil yang dilakukan oleh para penganut ajaran Veda.
Banyak sarjana berpendapat bahwa nama Ka’bah berasal dari kata Sanskerta “Kavya” yaitu gelar sang Pandita para Asura, Kavi Sukracarya. Dahulu ada 2 (dua) tradisi pemujaan kepada Siva. (1) Bila menginginkan hidup mulia dengan sifat-sifat luhur, orang-orang Arab memuja Siva pada hari Senen (Monday atau Soma, hari Bulan). (2) Bila menginginkan kekuatan atau kekayaan untuk menaklukkan atau mengatasi orang/pihak lain, orang-orang Arab memuja Siva pada hari Jum’at (Sukra-vara, hari mengingat Sukra, sang Pandita para Asura).
Apakah sholat Jum’at yang dilakukan oleh kaum Muslim dan dianggap sholat paling utama, terkait dengan peranan Sukra Usana Kavya dalam membimbing para Asura atau hanya kebetulan saja begitu? Silahkan anda merenungi!
Kemunculan Muhammad sebagai Nabi agama Islam disebutkan dalam pustaka suci Veda. Dikatakan, “Kemudian datang bersama para sahabatnya seorang buta huruf dengan sebutan guru (= rasul, nabi) bernama Mahamada (Bhavisya-Purana Skanda III, Bab 3, sloka 5). Disebutkan pula bahwa Mahamada adalah marusthalnivasinam, penduduk daerah gurun (= Arabia).
Muhammad lahir th.570 Masehi di Mekah. Pada usia 40 tahun beliau menerima wahyu Tuhan melalui malaekat Jibril di goa Hira, tempatnya merenung (=bermeditasi). Ajaran yang diterima berupa wahyu ini kemudian menjadi bahan kitab suci Al Qur’an dan Muhammad menjadi Nabi agama Islam. Oleh karena wahyu-wahyu berikutnya diterima secara selang waktu dan terus berlanjut sampai akhir hayatnya, maka tidak ada Qur’an resmi yang terbit selama Muhammad hidup.
Setelah Muhammad wafat th. 632 Masehi, barulah Khalifah Abu Bakar membentuk panitia dibawah bimbingan sekretaris Nabi yaitu Zaid Ibnu Thabit untuk mempersiapkan versi Qur’an resmi berupa buku/kitab. Qur’an yang dikenal sekarang terbagi menjadi 14 Bab (Sura) dan terdiri dari 6.200 ayat.
Disamping kitab suci Al Qur’an, orang Muslim juga berpegang pada:
Hadits, kumpulan kata, kalimat ucapan dan pernyataan terkait dengan Qur’an yang di-kemukakan oleh Nabi Muhammad (dan tidak tercantum dalam Qur’an).
Sunnah, uraian tentang prilaku, perbuatan dan kegiatan Nabi Muhammad (yang dijadikan tauladan oleh para pemeluk Islam).
Kehiduan penduduk Arabia sebelum Nabi Muhammad lahir, secara moral amat merosot. Orang-orang membuat dan menyembah patung deva-deva menurut keinginan dan angan-angan nya sendiri. Mereka punya kebiasaan mengorbankan bayi perempuan kepada patung yang di puja, berhubungan badan dengan ibu kandung atau saudara perempuan, bersukaria dengan miras dan judi, dan sebagainya.
Misi Muhammad adalah menegakkan prinsip pemujaan hanya kepada Allah (Tuhan). Maka beliau dan pengikutnya menumpas habis segala bentuk pemujaan kepada berbagai macam patung deva-deva. Dan beliau menetapkan aturan-aturan hidup bermoral dengan mempraktekkannya dalam kehidupannya sendiri.
Tetapi apakah Nabi Muhammad benar-benar anti pemujaan kepada gambar, lukisan dan patung yang terkait dengan Tuhan? Ternyata tidak! Hal ini ditunjukkan oleh fakta-fakta berikut:
Ketika menaklukkan Mekah dan memasuki Ka’bah, Muhammad memerintahkan agar segala patung, gambar dan lukisan dihancurkan,kecuali gambar Bunda Maria yang sedang memangku bayi Jesus. Nabi menaruh tangannya sendiri pada gambar itu dan menyelamatkan dari kehancuran.
Pada masa awal pengajarannya tentang Islam, Muhammad mengungkapkan (pentingnya) perantaraan devi Al Lat, Al Uzza dan Al Manat yang sangat dihormati. Satu versi ceritra menuturkan Nabi berkata sbb. “Apakah anda memikirkan (tentang) Al Lat dan AL Uzza dan Al Manat yang ketiga selain itu? Mereka adalah bagaikan angsa-angsa dewani nan mulia. Perantaraan mereka di harapkan wujud-wujud mereka tidak boleh dilalaikan”.
Lalu Nabi Muhammad sujud telungkup mengakhiri pengajaran (dakwah) nya dan para hadirin pun ikut sujud telungkup.
Nabi Muhammad sesungguhnya mengakui bahwa menyembah gambar, lukisan atau arca (patung) Tuhan (Allah) adalah cara bonafid untuk mengingat, menghormati dan melayani Allah. Namun Muhammad tidak mengungkapkan tentang wujud pribadi Allah, sebab penduduk berada pada tingkat moral kehidupan yang begitu merosot. Dan mengajarkan pengetahuan tentang Allah pribadi kepada mereka akan sangat berbahaya dan merusak. Nabi Muhammad berkata, “Bicaralah kepada rakyat sesuai tingkat kemampuan intelektual mereka. Sebab, jika engkau bicara banyak hal kepada mereka, banyak dari mereka tidak akan bisa mengerti dan dengan demikian menjadi salah mengerti”.
Tradisi Muslim menyatakan bahwa satu bagian pengetahuan spiritual “Heavenly Book (Kitab Sorgawi)” yang tersimpan dibawah singgasana Allah, diajarkan kepada Nabi Muhammad ketika beliau naik ke alam Surgawi dengan menembus langit ke-tujuh (Isra-miraj).
Pengetahuan rohani yang diajarkan itu ada 3 (tiga) macam yaitu:
Pengetahuan yang Allah minta kepada Nabi untuk tidak diajarkan (disembunyikan).
Pengetahuan yang Allah persilahkan kepada Nabi untuk diajarkan atau tidak diajarkan (disembunyikan).
Pengetahuan yang Allah minta kepada Nabi untuk diajarkan kepada seluruh warga masyarakat.
Jadi pengetahuan spiritual yang diterima Nabi Muhammad dari Allah begitu terbatas. Namun demikian, beliau memberikan banyak isyarat tentang Tuhan pribadi yang duduk diatas singgasanaNya di Sorga ketika Nabi menghadap Beliau.
Setelah kembali dari menghadap Allah, orang-orang bertanya kepada Nabi, “Apakah anda melihat Allah?”. Nabi menjawab, “Saya lihat hanya cahaya, cahaya begitu kemilau sehingga Allah seperti duduk dibelakang 20.000 tirai. Jikalau semua tirai itu disingkirkan dan andaikan seseorang melihat wajah Allah, maka ia akan seketika terbakar menjadi abu”.
Dikatakan lebih lanjut bahwa ketika Nabi Muhammad berdiri dihadapan Allah, dia merasa aman. Tetapi Nabi sulit berdiri ketika Allah mengulurkan kedua tanganNya dan menaruh satu tanganNya di bahunya dan yang lain di dadanya. Suhu amat dingin membuat tulang dan darahnya seperti beku. Kemudian suhu dingin itu hilang dan ber-ganti menjadi suasana suka-cita yang dirasakan seperti membawa Nabi keluar dari tubuhnya kedalam keadaaan begitu ajaib yang tidak mungkin bisa diuraian (dengan kata-kata).
Pada suatu pagi hari Nabi Muhammad terlambat kumpul bersama para sahabatnya untuk sholat bersama. Kemudian kepada mereka, beliau berkata, “Saya bangun pagi sekali melakukan wudu. Dan dalam suasana mengantuk saya panjatkan doa-doa sesuai perintah Allah. Terus saya seperti terjaga dan tiba-tiba melihat Penciptaku dalam wujud Nya yang amat tampan ………..” (Hadits Nabi, Penuturan Muadh Bin Jabal).
Islam pada dasarnya mengajarkan Bhakti Yoga sebagaimana disampaikan oleh His Divine Grace AC Bhaktivedanta Svami Prabhupada, “Agama apapun yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan, prakteknya adalah bhakti-yoga. Agama Islam pun adalah bhakti-yoga”.
Menurut Veda (Bhagavata Purana 7.5.23), ada 9 (sembilan ) proses bhakti kepada Tuhan. Kesembilan proses bhakti ini terdapat pula di dalam Al Qur’an.
Monday, May 30, 2011
CERDAS MEMULIAKAN TUHAN
Oleh : Js Kamdhi | 28-Mei-2011, 12:44:40 WIB |
| KabarIndonesia - “Bermadahlah pada Tuhan dalam suka cita, datanglah kepada-Nya dengan sorak sorai.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya. Sebab, Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.” (Mazmur 100: 2-5) Merefleksikan kata mulia kita berhadapan dengan tiga makna. Pertama, mulia berkait dengan kedudukan-pangkat-jabatan. Orang berpangkat-berkedudukan disebut orang-orang terhormat. Tak heran bila ada sebutan, “yang mulia, yang terhormat, yang dimuliakan, yang dihormati’. Kedua, mulia berkait dengan keluhuran budi. Berkait dengan karakter-watak-kepribadian. Orang disebut mulia tidak didasarkan kedudukan-jabatan-pangkat tetapi integritas pribadinya. Juga, tidak didasarkan pada kepemilikan-kekayaannya. Orang disebut mulia karena mampu mengangkat derajat-martabat sesamanya. Orang disebut mulia karena menjadi ‘the man for others’: berkontribusi dalam pemberdayaan-pencerdasan-penyejahteraan. Remaja Malang yang masih duduk di SMA adalah anak-anak mulia karena mampu mengharumkan bangsa-negara setelang dinobatkan sebagai innovator sepeda ramah lingkungan. Si kecil mungil dari Bandung, yang masih duduk di SD, menjadi anak mulia karena kepiawiannya ber-animasi. Kakak-adik pencipta antivirus lebih terhormat daripada sebutan kosong ‘wakil rakyat yang terhormat’. Ketiga, mulai berarti berkualitas. Dapat untuk realitas-benda-persona. Manusia mulia adalah manusia-manusia yang berdaya hidup. Selalu dan terus-menerus berbuat-bekerja demi pencerahan-pencerdasan-penyejahteraan sesama. Para petani yang tetap berjuang melawan hama-rentenir-hasil pertanian impor lebih mulia dibandingkan mereka yang piawi memark-up proyek-proyek. Nelayan yang tetap tegar-tegak-tanggung menantang badai tentu lebih mulia dibandingkan mereka yang ‘mendipositokan’ tunjangan sertifikasi bagi pada pahlawan tanpa tanda jasa. “Bermadahlah pada Tuhan dalam suka cita, datanglah kepada-Nya dengan sorak sorai.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya. Sebab, Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.” Sahabat, layakkah kita menyebut diri orang mulai? Adakah makna puisi agung, mazmur Daud, menyentuh batin-rohani kita hingga kita terinspirasi untuk berjuang dalam pergumulan-pergulatan hidup? Adakah kata yang menusuk kesadaran kita hingga kita ‘menepuk dada’ dan berucap, “Tuhan jadikanlah aku pembawa damai, kebahagiaan, kesejahteraan bagi sesama?” Menjadi orang mulia hanya terjadi bila kita hidup dalam ‘kuasa Sang Sumber Kemuliaan’. Ada dan berada bersama ‘Sang Sumber Kemuliaan’ menjadikan kita untuk selalu berkerendahan hati hingga cerdas mempermuliakan sesame, tanpa melihat sekat-sekat lahiriah. Ada dan berada bersama “Sang Sumber Kemuliaan” menjadikan kita selalu berjuang agar sesama lebih sejahtera-damai-bahagia. Selalu dan terus-menerus berjuang terwujudnya kerinduan hakiki manusia hidup dalam damai sejahtera. Dalam alur pergumulan dan pergulatan hidup inilah kita mampu menangkap kemuliaan Tuhan yang kongkret-nyata dalam diri sesama. Kita mampu merasakan keluhuran dan keagungan Tuhan dalam diri sesama dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Cerdas datang pada Tuhan melalui pintu gebang-Nya dengan penuh syukur menjadikan kita mampu mengenyam kebaikan dan kesetiaan Tuhan pada langkah-langkah hidup dan kehidupan kita. Selalu dan terus-menerus kita berjalan bersama Tuhan. Selalu dan terus-menerus kita menyinarkan kasih setia-Nya dalam perkataan-perbuatan. Hingga, kita seolah menjadi pohon yang dikenal dari buahnya. Sahabat, hidup ini sangat singkat. Kita harus memilih ada dan berada bersama Tuhan atau hidup tanpa Tuhan. Inilah iman. Dan, inilah pergumulan dan pergulatan hidup yang Tuhan kehendaki. Tuhan memberkati…(*) |
REFLEKSI HARI PANCASILA
Oleh : Nanok Triyono | 30-Mei-2011, 14:26:08 WIB |
| KabarIndonesia - Masih ingatkah ketika masih mengenyam bangku sekolah, terutama Sekolah Dasar dimana setiap kali Upacara bendera hari senin selalu dibacakan lima sila dalam Pancasila. Pancasila sudah mulai dikenalkan dalam pendidikan dasar di Indonesia, isi yang selalu dibacakan menyangkut lima sila yang menjadi tonggak perjalanan kehidupan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, pedoman untuk masyarakat dan pemerintahan kita dalam menjalankan kehidupan berbangsa. Dalam perjalanannya, Pancasila tidak serta merta lahir tanpa halangan. Sebagai dasar Negara Pancasila lahir dengan pemikiran dari beragam pihak, sampai benar-benar terbentuk lima sila yang sekarang kita sebut Pancasila. Dalam pembentukannya, Pancasila mengalami beberapa perumusan, maklum saja Negara kita diajajah oleh pemerintahan Hindia Belanda yang pada waktu benar-benar membatasi pergerakan kaum Nasionalis. Sejarah lahirnya Pancasila memiliki beberapa rumusan, diantaranya pertama yakni rumusan Muh. Yamin, kedua: rumusan Ir. Soekarno, ketiga: rumusan Piagam Jakarta, keempat: rumusan BPUPKI, kelima: rumusan PPKI, keenam: rumusan Konstitusi RIS, ketujuh: rumusan UUD sementara, kedelapan: rumusan UUD 1945, sampai akhirnya tercetus perumusan akhir dengan lima sila yang kita sebut sebagai Pancasila. Isi dari Pancasila lebih banyak menyangkut pada kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Pancasila yang dicetuskan Presiden Soekarno waktu itu diharap bisa menjadikan masyarakat Indonesia yang bertingkah laku sesuai dengan norma. Isi dalam sila-sila yang terkandung memiliki makna yang cukup luas, mencakup sisi beragama, berperikemanusiaan, persatuan bangsa, kerakyatan, dan keadilan. Tonggak Pancasilapun diharapkan mampu menyatukan bangsa Indonesia yang waktu itu masih dalam tahap proses kemerdekaan. Dalam perjalanannya sampai sekarang, makna yang ada dalam Pancasila seiiring semakin terkikis. Munculnya banyak paham termasuk juga efek globalisasi membuat nilai Pancasila hanya teringat dalam bacaan Upacara bendera. Sebut saja ketika bangsa ini mengalami degradasi nasionalisme, munculnya tindak makar dan pemberontakan, terorisme yang mendunia, serta akhir-akhir ini muncul kembali perilaku yang melenceng dari Pancasila yakni NII (Negara Islam Indonesia). Pancasila lahir untuk kedaulatan bangsa Indonesia, menyatukan masyarakat kita yang multietnis, dan memperkuat nasionalis, tetapi pemahaman Pancasila semakin luntur dengan maraknya kriminal serta tindakan makar. Negara Indonesia membutuhkan Pancasila, sebagai pedoman masyarakat kebangsaan dan kenegaraan dan pedoman itu benar-benar harus dipahami rakyat Indonesia, bukan hanya dijadikan pajangan dan bacaan semata. Para pelaku sejarah melahirkan kelima sila untuk menata Indonesia kedepan, Indonesia yang bermartabat, berdaulat, beragama, bersosial tinggi, berkebudayaan, berkesatuan, beradab, dan berteknologi, oleh karenanya kita perlu memahami kembali perjalanan Pancasila dan melaksanakan isi yang terkandung didalamnya agar senantiasa Negara ini tetap berpacu dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. |
P A N C A S I L A
| Pancasila Itu Sosialis |
| Catatan singkat ini merupakan hasil dialog KabarIndonesia - ‘Mempertimbangkan Sosialisme di Indonesia’ yang pernah saya lakukan dengan sejumlah mahasiswa di Surabaya dan Malang. Seiring dengan revitalisasi Pancasila, seperti dibahas MK, Selasa 24/05 lalu saya merasa perlu geliat pemikiran yang muncul ketika itu. Pancasila itu mangandur anasir sosialis!Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa (24/05) lalu, mengadakan rapat koordinasi dengan sejumlah petinggi negeri untuk merevitalisasi nilai Pancasila. Dengan kata lain, diakui atau tidak, nilai Pancasila memang telah luntur di negeri ini. Serangkaian peristiwa sosial, politik, hukum, dan budaya mengindikasikan hilangnya spirit Pancasila. Konflik horisontal antar kelompok merupakan bias ‘matinya’ spirit Pancasila yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati antar sesama. Tentu saja tanpa memperdulikan suku, ras, dan agama. Saya tidak ingin mempermasalahkan implementasi Pancasila yang luruh dari jiwa bangsa ini. Justru saya ingin melihat ‘jiwa’ Pancasila itu sendiri yang konon lahir dan merupakan esensi karakter masyarakat Agar tidak terjadi kesalahfahaman, perlu kiranya kita mengerti ihwal sosialisme di Varian gerakan pun muncul bak jamur di musim hujan. Sebut saja Serikat Indonesia (SI) yang juga berpaham sosialis yang sudah tentu mengusung gagasan Karl Marx dan Friederic Engel. Sebuah gagasan yang terdorong atas buruknya situasi ekonomi dan politik ketika itu. Sistem monopoli Pemerintah Hindia Belanda telah menggerus daya hidup masyarakat Anasir Sosialis Lantas apa hubungan antara Sosialis dengan Pancasila? Pancasila sebagai dasar negara merupakan manivestasi dari keberagaman masyarakat Indonesia. Pancasila diharapkan mampu menjadi medium pemersatu perbedaan tersebut. Sebagai medium pemersatu tentu saja spirit egalitarian anasir utama mencapai kesepahaman dalam perbedaan. Wacana sosialis merupakan diskursus kesetaraan yang meninggikan kebersamaan. Seperti diungkapkan Marco Kartodikromo, seorang jurnalis dan penulis, bahwa konsep sama rata-sama rasa menjadi esensi sosialisme Indonesia. Ketika ada persamaan perasaan dan pemerataan secara sosial maka toleransi dan gotong royong akan muncul sebagai perilaku utama. Sosialisme Indonesia merupakan konsep sosial yang menjunjung nilai kebersamaan demi mengatasi keterpurukan. Tidak adanya monopoli oleh komunitas tertentu merupakan ciri masyarakat sosialis. Negara hanya membuat regulasi saja agar keseluruhan potensi masyarakat bisa berkembang demi kemakmuran masyarakat itu sendiri. Di dalam sosialisme ada kesetaraan dan kebersamaan yang meniadakan perbedaan. Inilah Pancasila! Sayangnya, sosialisme di Indonesia seperti halnya komunisme telah menjadi korban sejarah. Oknum politikus tertentu sengaja ‘memperalat’ gagasan sosialis (dan komunis) menjadi gagasan yang sangat radikal dan merusak sendi ketatanegaraan. Ingat bagaimana Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi medium utama petualang politik ketika itu. Hingga hasilnya, PKI menjadi partai yang revolusioner serta mengundang phobia nasional. Sebenarnya, gagasan sosialis dan komunis hanyalah gagasan ekonomi sebagai upaya ‘keluar’ dari keterpurukan secara ekonomi dan politik saat itu. Tapi gagasan itu pun diselewengkan dengan memanfaatkan kemiskinan serta keterpurukan politik pada masanya. Kembali kepada tema utama, Pancasila sejatinya adalah resume dari gagasan kebersamaan dalam keberagaman. Hal tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika yang menjadi spirit pluralisme Nah! Anasir sosialis yang mengedepankan kegotongroyongan serta kebersamaan demi tercapainya perbaikan nasib ternyata tersirat dalam Pancasila kita. Jadi tidak berlebihan kiranya jika saya sebut seorang Pancasilais itu adalah sosialis. Sosialisme |
Friday, May 27, 2011

Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia,
Perhatikan Sloka berikut (Bhagawad Gita Bab IV. 4) :
aparam bhavato janma param janma vivasvatah
katham etad vijaniyam tvam adau proktavan iti
Siapakah Arjuna itu? Apakah dalam kapasitas beliau sebagai murid dari Sri Krishna tidak percaya dengan keagungan Tuhan? Kenapa sering sekali Arjuna bertanya hal-hal yang sepele seolah-olah beliau sama sekali tidak mengerti tentang kebesaran Tuhan yang muncul melalui Sabda Sri Krishna? Apakah yang terjadi dibalik maksud dan tujuan dari Arjuna yang berposisi sebagai seorang sisya?
Arjuna diakui sepenuhnya sebagai penyembah Tuhan. Namun, bagaimana mungkin Arjuna tidak percaya kepada sabda Shri Krishna? Sebenarnya Arjuna tidak bertanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mereka yang tidak percaya kepada kepribadian Tuhan Yang Maha Esa atau untuk orang jahat yang tidak suka gagasan bahwa Sri Krishna harus diakui sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Hanya untuk kepentingan mereka saja Arjuna bertanya tentang hal ini, seolah-olah dia sendiri belum sadar terhadap kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Arjuna menyadari secara sempurna bahwa Sri Krishna adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sumber segala sesuatu dan kata terakhir dalam kerohanian.
Sri Krishna muncul sebagai putra Devaki di bumi ini. Dalam hal ini, manusia biasa sulit sekali mengerti bagaimana Sri Krishna tetap sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang sama, kepribadian yang kekal dan asli. Agar hal ini dijelaskan, Arjuna mengajukan pertanyaan kepada Sri Krishna supaya beliau dapat bersabda dengan cara yang dapat dipercaya. Seluruh dunia mengakui bahwa Sri Krishna adalah penguasa yang paling tinggi, bukan hanya pada saat ini, tetapi sejak sebelum awal sejarah, dan hanya orang jahat saja yang menolak Sri Krishna. Bagaimanapun juga oleh Sri Krishna adalah penguasa yang diakui oleh semua orang, Arjuna mengemukakan pertanyaan di hadapan Sri Krishna supaya Sri Krishna menguraikan diri-Nya tanpa digambarkan oleh orang jahat, yang selalu berusaha memutar-balikkan kebenaran Sri Krishna dengan cara yang dapat dipahami oleh orang jahat dan para pengikutnya.
Semua orang perlu menguasai ilmu pengetahuan tentang Sri Krishna demi kepentingannya sendiri. Karena itu apabila Sri Krishna bersabda tentang dirinya, itu mujur bagi seluruh manusia di dunia. Orang jahat mungkin menganggap penjelasan seperti itu dari Sri Krishna sendiri terlihat aneh, sebab mereka selalu mempelajari Sri Krishna dari segi pandangan pribadi mereka.
Tetapi para penyembah dengan senang hati menyambut pernyataan pernyataan Sri
Dengan cara seperti ini orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang menganggap Sri Krishna sebagai manusia biasa, mungkin akan mengetahui bahwa Sri Krishna melampauii kekuatan manusia. Mungkin mereka akan mengetahui bahwa Sri Krishna adalah sad cid ananda vigraha betuk kekal kebahagiaan dan pengetahuan, bahwa Sri Krishna bersifat rohani, dan bahwa Sri Krishna berada di atas kekuatan sifat -sifat alam material dan di atas pengaruh waktu dan ruang.
Demikian semoga berguna.
Om Santih, Santih, Santih,